PENGALAMAN SHAILA

        Ketika penulis berkunjung ke rumah Nn.Krishna– seorang sarjana bahasa Sanskerta–untuk menanyakan arti suatu kata, secara kebetulan ia berjumpa dengan Nn.Shaila yang sedang bertandang ke situ. Pada waktu Shaila, gadis cantik yang tinggi dan langsing, mendengar bahwa penulis gemar menulis pengalaman para bakta dalam kaitannya dengan Bhagawan Sri Sathya Sai Baba, maka dengan senang hati ia menceritakan pengalamannya.

        Shaila adalah anak bungsu dan putri satu-satunya dalam keluarga. Ia tinggal bersama orang tuanya dan salah satu abangnya yang sudah menikah di Tumkur, suatu wilayah baru yang berkembang pesat di pinggiran kota Bangalore.

        Pada tahun 1990 ketika berusia 18 tahun, ia pernah pergi ke Ashram Bhagawan Sri Sathya Sai Baba di Kadugodi, pinggiran kota Bangalore, bersama rombongan penyanyi kidung suci dari Pura Bhagawan di Tumkur, untuk mendapatkan darshan Beliau. Pada waktu itu ia sekadar ingin melihat Bhagawan karena mendengar tentang kekuatan adikodrati Beliau yang luar biasa. Dalam darshan, ketika Bhagawan berjalan dan lewat di depannya,  ia mencium bau wangi yang tidak dapat dijelaskannya. Sampai pulang pun di rumah sepanjang hari ia tetap mencium bau wangi itu.

        Pada tahun 1991-1992 seorang kenalan ibunya datang berkunjung ke rumah mereka dan menceritakan musibah yang dialami keluarganya sambil menangis. Wanita tersebut mempunyai anak laki-laki berusia 4 ½ tahun yang menderita polio. Ternyata dokter menemukan bahwa kaki anak kecil itu ditumbuhi kanker ganas dan harus segera diamputasi untuk menyelamatkan hidupnya.

        Mendengar itu, Shaila teringat pada kisah yang sering di dengarnya tentang keampuhan vibhuti Baba. Kebetulan ia mempunyai gambar Bhagawan Sri Sathya Sai Baba. Ia juga mempunyai vibhuti yang diambilnya dari mandir Bhagawan Baba di Tumkur. Gambar dan vibhuti  tersebut diberikannya kepada teman ibunya dengan pesan agar wanita itu berdoa kepada Bhagawan Baba mohon pertolongan untuk putranya, dan agar vibhuti tersebut dioleskan pada kaki si bocah yang sakit. Tidak lama setelah itu, Shaila mendengar bahwa kira-kira seminggu setelah menggunakan vibhuti, ketika anak kecil itu diperiksa lagi di rumah sakit, dokter mendapati bahwa kankernya sudah lenyap. Dengan nada kecewa Shaila berkata bahwa walaupun wanita itu telah mengalami mukjizat seperti itu, sampai sekarang ia dan keluarganya belum pernah datang berkunjung ke Prashanti Nilayam.

        Pada awal tahun 90-an, Shaila yang waktu itu gadis remaja, masih mencari-cari guru. Ia mengira bahwa Bhagawan Sri Sathya Sai Baba hanyalah salah satu di antara guru-guru spiritual yang banyak terdapat di India. Ia juga bimbang ketika mendengar beberapa orang yang tidak percaya, menuturkan cerita yang negatif tentang Bhagawan Baba. Selain itu, orang tua dan saudara-saudaranya di rumah tidak ada yang berminat pada Bhagawan Baba.  Shaila merasa bahwa pada waktu itu ia masih terlalu muda, belum mampu membuat pertimbangan yang baik dan mengambil keputusan. Jadi ia sering pergi ke ashram-ashram lain dan menemui banyak swami atau saadhu.

        Shaila sering merasa gelisah tanpa ia ketahui sebabnya dan sejak tahun 1993 ia selalu sakit-sakitan.  Badannya sebelah kanan dari kepala hingga ujung ibu jari kaki terkena rematik arthritis dan sering sakit sekali. Pada waktu itu ia sering berkunjung ke Chinmaya Mission, ashram Swami Chinmayananda   di   Tumkur.   Salah   seorang   brahmachari ( semacam novis ) di situ mengajak Shaila agar bergabung di Chinmaya Mission, tetapi Shaila menolak.

Pada suatu hari pada bulan Oktober 1996 setelah bercakap-cakap dari hati ke hati dengan seorang teman lain yang juga menjadi brahmachari di ashram tersebut, teman itu pun mengajak Shaila agar bergabung menjadi brahmachari di Chinmaya Mission. Ketika Shaila menolak, gadis itu berkata bahwa malam itu ia akan berdoa kepada gurunya, Swami Chinmayaananda ( yang waktu itu sudah meninggal ), agar beliau membimbing Shaila. Sungguh luar biasa! Malam itu Shaila bermimpi melihat Bhagawan Sri Sathya Sai Baba dan Swami Chinmayaananda. Dalam mimpi itu ia melihat Swami Chinmayaananda sedang duduk dalam samaadhi ( meditasi yang mendalam ) dengan mata terpejam. Di sampingnya berdirilah Bhagawan Sri Sathya Sai Baba. Swami Chinmayaananda membuka mata, menatap Shaila, lalu berkata, “Jangan takut. Pergilah ke Bhagawan Sri Sathya Sai Baba. Beliau gurumu. Beliau akan membawamu ke tujuan.”  Bhagawan Baba hanya berdiri di sebelah Swami Chinmayaananda dan memandang Shaila sambil tersenyum. Lalu Shaila terbangun.

Kini Shaila berusia 24 tahun dan kerinduannya untuk mempunyai seorang pembimbing spiritual meningkat. Tadinya ia memang merasa bimbang tentang Bhagawan Sri Sathya Sai Baba,  tetapi  setelah  mimpi ini keraguannya lenyap. Ia ingin pergi ke Prashanti Nilayam untuk mendapatkan darshan Beliau, tetapi ia belum pernah pergi ke Puttaparti dan tidak tahu akan pergi bersama siapa ke sana. Akhirnya ia mendapat ide. Ny.Venkatalakshmamaa yang tinggal di Koratagare– suatu wilayah di luar kota Bangalore, kira-kira satu jam perjalanan dengan bus dari rumahnya– secara fisik masih kerabat dengan Bhagawan Sri Sathya Sai Baba. Selain itu, suami nyonya tersebut adalah teman sekantor ayahnya yang bekerja sebagai inspektur polisi. Shaila pergi menemui Ny.Venkatalakshma-maa, menceritakan mimpinya, dan minta diantar pergi ke Puttaparti. Bulan Oktober itu juga ( tahun 1996 ) Ny. Venkatalakshmamaa mengajaknya pergi ke Prashanti Nilayam, Puttaparti, akan tetapi kepada ibunya, Shaila hanya berpamitan bahwa ia pergi ke Koratagare, ke rumah Ny.Venkatalakshmamaa.

        Keesokan harinya ia pergi ke darshan. Karena Shaila datang bersama kerabat Swami, ia diizinkan duduk di depan. Ketika Bhagawan datang memberikan darshan dan Shaila melihat Beliau, ia sangat tersentuh dan air matanya mengucur terus, ia sendiri tidak tahu mengapa begitu. Ia tinggal selama tiga hari di Prashanti Nilayam, kemudian pulang ke Tumkur.

        Sementara itu, di rumah ibunya merasa cemas karena Shaila, anak bungsu dan putri tunggalnya, berpamitan pergi ke Koratagare, tetapi sampai tiga hari belum pulang. Pada waktu itu di rumah mereka belum ada telepon sehingga ia tidak dapat menelepon Ny.Venkatalakshmamaa. Akan tetapi, Bhagawan Baba Yang Mahatahu dan penyayang menenangkan hati Ibu Shaila dengan cara Beliau yang khas. Malam itu sang ibu bermimpi melihat Shaila sedang duduk bersama orang banyak di tempat darshan di Prashanti Nilayam. Ketika Shaila pulang ke Tumkur dan menceritakan pengalamannya pergi ke Prashanti Nilayam kepada ibunya, sang ibu berkata, kalau begitu, dengan berkat Bhagawan, ibu melihat engkau di sana.

        Pada bulan Februari 1997 Shaila datang lagi ke Prashanti Nilayam bersama rombongan “Seva Dal” ( anggota Organisasi Darmabakti Sri Sathya Sai ) dari Tumkur untuk melakukan bakti sosial selama seminggu di ashram. Shaila heran karena ia tidak merasa lelah bekerja, menyapu halaman ashram, dan sebagainya. Pada waktu itu, setelah masa darmabakti selesai, maka sebelum pulang, rombongan seva dal diizinkan melakukan paadaanamaskaar ( mendapat berkah dengan menyentuh kaki Bhagawan ). Setiba di rumahnya di Tumkur, Shaila berbaring untuk beristirahat. Tiba-tiba ia merasa ujung jari tengah tangan kanannya seperti tersetrum listrik. Setelah itu, artritis yang dideritanya sejak tahun 1993 di bagian badan sebelah kanan sembuh dan nyerinya lenyap. Sampai sekarang tidak pernah kambuh lagi.

        Shaila masih menderita gangguan kesehatan lain. Ia sering merasa sakit-sakit di seluruh tubuhnya, terutama di punggung. Ini pun akhirnya disembuhkan oleh Bhagawan setelah ia ikut serta melakukan bakti sosial di ashram Whitefield bersama anggota Seva Dal. Shaila tidak pernah lupa bagaimana hal itu terjadi.

Pada bulan April 1998 –1999 sebagai anggota Seva Dal, ia disuruh datang ke ashram Whitefield-Kadugodi pada pukul 6.30 pagi untuk membantu di sana. Waktu itu musim panas, Bhagawan Baba tinggal di ashram Beliau di Kadugodi, Bangalore. Ribuan umat datang untuk darshan Beliau di situ. Karena itu, ashram sibuk sekali dan banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Akan tetapi, sulit sekali mendapatkan bus dari Bangalore ke Kadugodi pada pagi hari. Karena menunggu bus sampai lama, akhirnya ia terlambat dan baru sampai di ashram Kadugodi pada pukul 8.30 pagi. Pada waktu itu darshan telah usai dan pimpinan Seva Dal di sana menyuruhnya pulang. Dengan kecewa Shaila berjalan keluar dari gerbang utama meninggalkan kompleks ashram, kemudian menunggu bus di perhentian bus di depan pintu ashram bagian dalam. Dalam hati ia marah dan mengomel kepada Baba. Pada waktu itu ia sendirian, tidak ada orang lain di perhentian bus. Tiba-tiba pintu gerbang ashram bagian dalam ( gerbang untuk penghuni tetap ) terbuka dan Bhagawan muncul di situ, menengok ke luar, menatap Shaila sambil memberikan berkat dalam sikap abhayamudra, kemudian masuk lagi. Bukan main senangnya Shaila. Ia merasa sangat bahagia. Tak lama kemudian seorang ibu anggota Seva Dal memanggilnya masuk, menyuruhnya pergi ke bangsal dan membantu menyapu halaman di sana. Aneh sekali, sementara ia sibuk bekerja, rasa sakit-sakit di tubuhnya lenyap dan ia juga sama sekali tidak merasa lelah. Semakin bekerja, ia merasa semakin penuh energi. Setelah itu, ia sering pergi ke ashram Bhagawan di Kadugodi.

Ibu Shaila merasa tidak senang mengapa putrinya sering pergi ke Kadugodi dan selalu mencoba menghalanginya. Pada suatu malam Bhagawan Baba datang dalam  mimpi  sang  ibu  dan   berkata,   “Jangan  khawatir. Ia ( Shaila ) Kujaga. Segala hal yang berkaitan dengannya akan beres dan baik.” Sejak itu ibunya tidak keberatan lagi bila ia pergi ke Kadugodi.

Shaila sering pergi ke Mandir Sathya Sai di Tumkur. Ia sering mendengar tentang kehebatan vibhuti Bhagawan, karena itu di dalam hati ia berkata kepada Baba bahwa ia ingin melihat keampuhan vibhutti Beliau. Tidak lama kemudian Bhagawan menanggapi doanya. Di dekat rumah Shaila ada sebuah klinik bersalin. Seorang ibu, teman kakak ipar Shaila, membawa putrinya ke sana untuk bersalin. Sayang sekali bayi yang dilahirkan putrinya meninggal. Setelah mengetahui bayinya meninggal, wanita muda itu menjadi kurang waras dan tingkah lakunya menjadi liar, tidak terkendali. Sang ibu berkunjung ke rumah Shaila untuk menceritakan keadaan putrinya kepada temannya, yaitu kakak ipar Shaila. Shaila ikut mendengarkan keluhan ibu tersebut dan ia langsung teringat pada vibhutti Bhagawan. Ia mempunyai vibhutti Bhagawan yang diambilnya dari Mandir Sathya Sai di Tumkur. Diberikannya abu suci itu kepada ibu tersebut dengan pesan agar dioleskan sedikit di dahi putrinya, selain itu juga agar vibhuti itu dicampur sedikit air, kemudian diminumkan juga kepada pasien. Sungguh ajaib. Setelah menggunakan vibhutti Bhagawan, wanita muda itu menjadi normal lagi, kesehatannya membaik, dan ia diizinkan pulang.

Pengalaman-pengalaman ini membuat keyakinan Shaila pada keavataran Bhagawan semakin mantap. Ia tahu bahwa Bhagawan selalu memperhatikan bakta Beliau, dan ia merasa bersyukur mendapatkan Bhagawan Sri Sathya Sai Baba sebagai pembimbing spiritual. \p

KELAHIRAN KEDUA

KELAHIRAN KEDUA

       Teman penulis yang tidak mau disebutkan namanya, menceritakan bagaimana Bhagawan Sri Sathya Sai Baba menyelamatkan suaminya dari renggutan maut. Berikut ini adalah kisah sebagaimana dituturkannya.

        Pada tahun 1987 Ny.X mengabdi sebagai relawan yang membantu mengatur tempat duduk di bagian pasien di tempat darshan Prashaanti Nilayam. Pada awal Desember tahun itu suaminya, kita sebut saja Bapak X, pensiunan karyawan Mobile Oil yang berusia 65 tahun, pergi ke Mumbai. Bapak X bermaksud pergi ke bank dan ia membawa cek yang bernilai puluhan juta rupiah serta beberapa dokumen berharga lainnya. Ia berjalan di trotoar melewati kedai milik teman lamanya, tukang reparasi kunci. Teman tersebut memintanya mampir untuk minum teh. Pak X berkata bahwa ia akan menyelesaikan urusannya di bank terlebih dahulu, setelah itu ia akan mampir.

        Pak X baru berjalan beberapa langkah melewati kedai tersebut ketika tiba-tiba sebuah taksi menyelonong ke trotoar dan menabraknya. Pak X jatuh, kepalanya terhempas ke tanah, dan ia langsung pingsan. Darah mengucur deras dari sekeliling kepala bagian atas, dan juga dari mulut, hidung, serta telinganya. Temannya, si pemilik kedai, segera membawanya ke rumah sakit pemerintah. Ia mengambil cek dan surat-surat berharga yang dibawa Pak X, lalu menitipkannya pada pihak yang berwenang di rumah sakit tersebut. Setelah itu, ia menelepon ke rumah anak laki-laki Pak X, tetapi pemuda itu sedang berada di Bangalore. Mertua perempuan pemuda itulah yang menerima telepon pemilik kedai dan wanita itu segera menelepon putra Pak X memberitahukan keadaan ayahnya.  

        Mendengar musibah yang menimpa ayahnya, malam itu juga pemuda tersebut pergi ke Prashanti Nilayam. Pada darshan pagi keesokan harinya, ketika Baba berjalan di bagian tempat duduk pria, putra Pak X langsung maju menemui Beliau. Anehnya, waktu itu tidak ada petugas yang mencegahnya. Baba berhenti berjalan dan menatapnya. Pemuda itu memberitahukan keadaan ayahnya. Ketika Baba mendengar bahwa kepala Pak X cedera, Beliau memegang bagian belakang kepala Beliau sendiri sambil berkata, “Aku tahu, Aku tahu, jangan khawatir, ia akan baik.”

        Pagi itu juga Ny.X mohon izin kepada Bhagawan, lalu pergi ke Bangalore, dan bersama putra-putrinya ia naik pesawat ke Mumbai. Putri Ny.X terus mengingatkan ibunya agar tabah dan siap menghadapi kemungkinan yang terburuk.

Di rumah sakit mereka mendapati Pak X diinfus dengan glukose, pada hal ia menderita penyakit kencing gula. Akibatnya badannya menjadi bengkak. Ny.X dibantu putra-putrinya mengeluarkan Pak X dari rumah sakit itu untuk dipindahkan ke rumah sakit swasta yang baik, tetapi mereka terpaksa berkeliling kota sampai lama, pergi dari rumah sakit yang satu ke rumah sakit lain, semuanya penuh. Setelah terus menerus berdoa, akhirnya mereka mendapat tempat di sebuah rumah sakit swasta.

        Keadaan Pak X memburuk. Ia koma selama tiga hari dan mengeluarkan suara seperti orang cegukan, seakan-akan napasnya sudah hampir putus. Orang-orang mengira ia sudah akan meninggal.

        Sementara  itu  di Prashaanti Nilayam Baba  memberikan  17 bungkusan kecil abu suci ( vibhutti ) kepada Ny.M.V dengan pesan agar diberikan kepada temannya, Ny.X.  Ny.M.V. mengirim abu suci itu dengan pos ke alamat Ny.X di Mumbai. Setelah Pak X dirawat kira-kira dua atau tiga hari di rumah sakit, paket vibhutti  itu tiba. Setiap hari Ny.X memberikan sebungkus abu suci itu kepada suaminya sebagai obat dari Bhagawan.

        Dokter di rumah sakit swasta ini menduga ada gumpalan darah di otak Pak X, karena itu kepala Pak X discan, tetapi hasil scanning memperlihatkan bahwa otak Pak X bersih, sama sekali tidak ada gumpalan darah. Menurut Ny. X, keadaan ini juga merupakan mukjizat Bhagawan karena seandainya pada waktu itu dokter menemukan gumpalan darah, mungkin mereka akan segera mengoperasi kepala Pak X, pada hal itu akan sangat membahayakan hidupnya. Belakangan Ny.X tahu bahwa di rumah sakit ini dokter keliru memberikan dosis obat yang terlalu besar kepada suaminya. Obat yang seharusnya diberikan 1 mg perhari, telah diberikan sebesar 25 mg perhari. Akhirnya Ny.X menghentikan semua obat dari dokter dan hanya memberikan vibhutti Baba kepada suaminya.

        Sementara itu adik laki-laki Pak X, seorang dokter spesialis yang terkenal di Calcutta dan telah meraih gelar M.D. ( S 3  dalam bidang kedokteran )  mendesak agar Pak X dipindahkan ke rumah sakit di Calcutta supaya ia bisa merawatnya sendiri. Tepat ketika bungkusan vibhutti yang ke-17 habis, Pak X dikeluarkan dari rumah sakit di Mumbai, dibawa ke bandara, dinaikkan ke pesawat menuju Calcutta, lalu dimasukkan ke rumah sakit lagi dan diurus oleh adiknya. Pada waktu itu keadaan Pak X seperti tanaman. Ia lumpuh dan tidak mampu berbicara.

        Di rumah sakit ini kepala Pak X discan lagi dan dokter menemukan gumpalan darah di otak. Dokter kolega adik Pak X menyarankan agar dilakukan operasi untuk mengeluarkan gumpalan darah tersebut. Ny. X berkata agar dokter jangan melakukan tindakan apa pun tanpa izin Bhagawan.

Untuk menanyakan masalah ini kepada Bhagawan, putra Ny.X segera naik pesawat ke Bangalore, dilanjutkan dengan taksi ke Puttaparti. Karena sangat tergesa-gesa dan bingung memikirkan keadaan ayahnya, ia tidak sempat memeriksa di mana Baba berada saat itu. Ketika ia tiba di Prashaanti Nilayam, barulah diketahuinya bahwa Baba berada di ashram Brindavan, Kadugodi, di Bangalore. Akan tetapi, ada kejadian yang aneh. Begitu tiba di Parthi, ia disapa oleh seseorang yang tidak dikenalnya. Orang itu bertanya, “Apakah nama Anda si Polan, putra Bapak X ?” Ketika pemuda itu mengiyakan, orang itu berkata dengan tegas, “Ayahmu jangan dioperasi!” Putra Pak X merasa sangat heran dan langsung bertanya, “Lho, Anda kok bisa tahu tentang keadaan ayah saya?” “Swami yang mengatakannya kepada saya dengan pesan agar diberitahukan kepada Anda.” Putra Pak X mengucapkan terimakasih, lalu segera menelepon ibunya untuk memberitahukan hal itu.

Sang dokter, adik Pak X, percaya sekali pada keavataran Bhagawan Sri Sathya Sai Baba. Karena itu, ia memberitahu koleganya agar mengikuti petunjuk Swami dan Pak X tidak usah dioperasi.

Pak X dikeluarkan dari rumah sakit pada tanggal 29 Desember 1987 lalu dirawat di rumah. Perlahan-lahan keadaannya membaik. Ia mulai bisa duduk, berbicara, lalu mulai belajar berjalan. Setelah 7 bulan, keadaannya sudah pulih dan normal. Pada perayaan Guru Purnima tahun 1988 ia sudah bisa datang ke Puttaparti untuk menyampaikan rasa syukurnya kepada Bhagawan.

Pada hari ulang tahun Pak X yang ke-66, tanggal 11 Desember 1988, ia pergi ke darshan sambil membawa baki berisi beras kuning, cengkeh, dan kapulaga untuk dihunjukkan kepada Bhagawan memohon berkah. ( Waktu itu para bakta masih diizinkan membawa persembahan pada waktu darshan ). Baba bertanya kepadanya, “Hari lahirmu kapan?” Pak X berkata, “Tanggal 11 Desember, Swami.” Baba berkata, “Tidak. Hari lahirmu tanggal 29 Desember 1987.”  Pak X tidak dapat berkata apa-apa. Ketika hal ini diceritakannya kepada istri dan anak-anaknya, mereka tahu bahwa Bhagawan telah menganugerahkan kelahiran yang kedua kepadanya. Seharusnya ia sudah meninggal dalam kecelakaan itu, tetapi Bhagawan memperpanjang umurnya

DISELAMATKAN DARI SERANGAN MONSTER

        Sarojaammaa yang kini berusia 65 tahun adalah pensiunan guru bahasa Hindi di sekolah menengah. Ia lahir dan dibesarkan di Mysore, kemudian bekerja di Bangalore, dan kini menetap di Puttaparthi. Banyak pengalaman luar biasa yang dialaminya berkaitan dengan Bhagawan Sri Sathya Sai Baba. Berikut ini adalah beberapa kisah yang dituturkannya kepada penulis.

        Ia datang ke Prashanti Nilayam untuk pertama kalinya pada tahun 1963 bersama dengan ibunya dan abangnya, Venkataraman, seorang polisi. Pada waktu itu ayahnya sudah meninggal. Bhagawan memanggil mereka sekeluarga untuk interview. Mereka tidak perlu mengatakan apa-apa, Bhagawan sudah mengetahui segala hal mengenai mereka. Beliau berkata bahwa Venkataraman ( yang sudah menikah 10 tahun, tetapi belum mempunyai anak ) akan mempunyai anak laki-laki, dan kelak ia akan naik pangkat menjadi Sub-Inspektur. Sedangkan mengenai Saroja yang pada waktu itu berusia 25 tahun, Bhagawan mengatakan bahwa menikah tidak baik untuk kesehatan badannya, lebih baik ia melakukan saadhana ‘latihan spiritual’. Bhagawan berkata, “Apakah engkau bekerja sebagai guru? Engkau akan menderita karena masalah keuangan.” Pada waktu itu Saroja mengira Bhagawan Baba adalah orang suci biasa dan ia heran mengapa Bhagawan berkata demikian karena pikirnya, ia bekerja sebagai guru sekolah negeri, dan mendapat gaji yang baik, jadi, bagaimana ia bisa kekurangan uang? Akan tetapi, ia tidak seberapa merisaukan hal itu, ia kira mungkin Swami keliru.

        Saroja senang sekali mengikuti acara kidung suci di Prashanti Nilayam. Karena itu, setelah kembali dari Puttaparthi, setiap hari ia menyelenggarakan kidung suci bersama murid-muridnya. Sementara waktu berlalu, ia menyaksikan bahwa apa yang dikatakan Bhagawan mengenai abangnya ternyata benar. Tidak lama setelah kembali dari Prashanti Nilayam, istri abangnya hamil dan melahirkan anak laki-laki. Venkataraman juga naik pangkat menjadi Sub Inspektur.

        Ada seorang paman yang memusuhi keluarga mereka yaitu abang ayahnya sendiri. Keluarga pamannya itu sering mengirim guna-guna kepada keluarga mereka. Kira-kira pada bulan Oktober 1968 suatu pagi ketika akan berangkat ke sekolah tempat kerjanya, Saroja terkejut karena di depan pintu rumahnya ia melihat darah yang dipercik-percikkan. Ia memeriksa halaman kecil di depan rumah dan mendapati bahwa darah juga dipercik-percikan  di  situ,  bahkan  tanaman   bunga   yasmin ( semacam melati yang merambat ) juga diperciki darah. Saroja tidak tahu harus berbuat apa, jadi ia hanya merasa heran dan berangkat ke tempat kerjanya seperti biasa.

        Malam itu Saroja melihat suatu makhluk yang mengerikan tiba-tiba muncul di samping tempat tidurnya. Monster itu menarik-narik rambutnya, memukuli badannya, dan menampari wajahnya, lalu merasuk ke dalam dirinya. Setelah itu ia lupa segala-galanya. Kadang-kadang bila monster itu keluar sebentar dari badannya, ia menjadi normal lagi dan dapat menceritakan keadaan yang dialaminya kepada keluarganya. Anehnya, tidak ada seorang pun di rumahnya yang dapat melihat atau mendengar makhluk yang mengerikan tersebut. Bila monster itu merasuki dirinya lagi, ia menjadi seperti orang yang kurang waras. Dalam keadaan seperti itu, ia tidak bisa bekerja sebagai guru lagi. Hal itu berlangsung selama beberapa bulan.

        Dalam keadaan sulit, keluarga mereka teringat kepada Bhagawan Baba. Mereka sekeluarga datang ke Prashanti Nilayam lagi. Bhagawan yang penuh welas asih memanggil mereka untuk interview. Begitu mendapat kesempatan, Venkataraman langsung menceritakan keadaan adiknya kepada Bhagawan. Sambil memandang Saroja, Swami berkata, “Tidak, dia tidak apa-apa.” Kemudian Bhagawan menciptakan vibhuuti. Abu suci itu Beliau oleskan pada dahi Saroja dan sebagian lagi Beliau curahkan di tangannya dengan instruksi agar dimakan. Saroja segera memakan habis vibhuuti tersebut. Pada waktu itu makhluk mengerikan tersebut berada di dalam dirinya dan Saroja dapat mengetahui bahwa monster itu marah sekali karena ia makan vibhuuti. Ia mendengar makhluk itu terus menerus menggertakkan gigi dan memaki-maki. Setelah interview selesai, mereka kembali ke Mysore.

        Malam itu ketika Saroja berbaring akan tidur, makhluk mengerikan tersebut muncul, duduk di dadanya, lalu mulai menarik lidah Saroja. Saroja tidak dapat bernapas, dan tidak bisa berbicara. Ia ingin memanggil ibunya untuk minta tolong, tetapi dalam keadaan seperti itu, tidak ada suara yang dapat keluar dari mulutnya. Pada waktu itu ia berpikir bahwa kali ini ia akan mati, maka dalam keadaan tidak berdaya, ia mengingat Bhagawan Sri Sathya Sai Baba.

        Tiba-tiba Saroja melihat sinar keluar seperti mengalir dari foto Bhagawan yang terletak di dekat tempat tidurnya. Sinar itu memutari tempat tidurnya. Kemudian ia melihat Shiva tiba-tiba muncul di salah satu sudut kamarnya. Shiva berdiri menatap Saroja dan monster yang duduk di dadanya. Mata ketiga di dahi Beliau terbuka dan dari situ memancarlah api yang menyorot ke seluruh kamarnya. Dalam sekejap kamar Saroja penuh api. Monster itu terbakar dan berteriak-teriak, kemudian ia lenyap, habis dalam kobaran api. Anehnya, api itu tidak melukai Saroja. Setelah iblis lenyap, Shiva dan api pun tidak terlihat lagi. Segalanya menjadi normal. Saroja juga menjadi normal, ia merasa sangat lega, dan dapat berbicara seperti biasa. Ia segera memanggil ibunya dan menceritakan semua yang dialaminya malam itu. Ibunya berkata, “Sekarang makhluk itu sudah kalah, ayoh kita pergi ke Baba menyampaikan terima kasih.” Mereka sekeluarga pergi ke Puttaparthi dan mendapat interview lagi. Bhagawan berkata, “Kalau Aku tidak mengirim api itu, engkau sudah mati.” Saroja hanya dapat berkata, “Ya, Swami.” Setelah mendapat interview mereka kembali ke Mysore.

        Keesokan harinya ia pergi ke sekolah negeri tempatnya mengajar. Semua guru di situ mengerumuninya dan menanyakan keadaannya. Ia menceritakan bahwa ia sudah sehat lagi berkat pertolongan Bhagawan Sri Sathya Sai Baba. Saroja dipenuhi rasa syukur kepada Bhagawan dan begitu penuh semangat untuk menyanyikan kidung suci sehingga ia menceritakan tentang Bhagawan Baba kepada murid-muridnya dan mengajak mereka menyanyikan kidung suci. Murid-muridnya senang bernyanyi dan mereka memasang gambar Bhagawan di kelas, kemudian sebelum pelajaran Saroja dimulai, mereka menyanyikan kidung suci. Hal ini berlangsung selama tiga minggu. Sekolah itu adalah sekolah negeri yang sekuler dengan lebih dari 2000 siswa dan 78 guru dari berbagai agama. Guru-guru lain marah karena mereka tidak percaya kepada Bhagawan Baba. Mereka mengadu kepada pimpinan departemen pendidikan. Saroja dipanggil dan diperingatkan tidak boleh menyelenggarakan kidung suci di kelas karena sekolah itu adalah sekolah negeri. Sementara itu, kepala sekolah mereka diganti, sekarang seorang wanita. Begitu kepala sekolah yang baru datang, semua guru mengadukan Saroja kepadanya. Kepala sekolah memanggil Saroja dan menegurnya, “Mengapa Anda mengajarkan tentang Sai Baba? Kalau Anda tidak berhenti, Anda akan saya adukan kepada polisi! Singkirkan foto Baba!” Saroja menangis dan mengatakan bahwa bukan ia, melainkan para siswalah yang memasang foto tersebut. Sungguh luar biasa! Saat itu juga mereka melihat banyak vibhuuti melimpah keluar dari foto tersebut. Akan tetapi, ketika melihat mukjizat abu suci itu, para guru berkata, “Lihat! Saroja mencoba menghipnotis kita!” Saroja menangis. Foto itu diambilnya, dibawanya pulang, lalu ia mengajukan permohonan berhenti bekerja di situ. Permohonannya diterima. Untuk sementara waktu Saroja tidak mempunyai pekerjaan.

        Mungkin masa itu adalah masa yang buruk bagi Saroja. Cobaan demi cobaan datang menimpanya. Dua bulan setelah kejadian di atas, pada tahun 1969, ibunya meninggal. Dua bulan setelah ibunya meninggal, abangnya juga meninggal. Istri abangnya memperlakukannya dengan buruk, bahkan mengusirnya dari rumah. Semua kerabatnya menyalahkan Saroja, kata mereka dia adalah gadis yang tidak baik karena pergi ke Puttaparthi. Pada waktu itu keluarga, kerabat, dan orang-orang di sekitarnya tidak ada yang percaya kepada Bhagawan Sri Sathya Sai Baba.

        Setelah berusaha kian kemari, Saroja mendapat pekerjaan mengajar di S.D. Ia juga bekerja di asrama pelajar, sekadar untuk menyambung hidup. Pada tahun 1978 ia pindah ke Bangalore dan mendapat pekerjaan yang sama dengan dahulu, mengajar bahasa Hindi di sekolah menengah.

Pada suatu hari Baba datang dalam mimpinya dan berkata, “Pergilah ke pengadilan dan minta bagianmu ( atas warisan keluarga ).” Sesuai dengan petunjuk Bhagawan, Saroja pergi ke pengadilan dan menuntut haknya atas warisan orang tuanya. Sidang memutuskan bahwa ia harus menerima empat ratus ribu rupi ( kira-kira 80 juta rupiah ). Akan tetapi kerabatnya mendesaknya agar ia berkompromi dengan iparnya dan agar ia setuju menerima 80.000 rupi saja ( kira-kira 16 juta rupiah ). Mereka berkata bahwa untuk memberikan empat ratus ribu rupi kepadanya, rumah keluarga harus dijual, lalu di mana iparnya dan kedua anaknya akan tinggal. Saroja merasa kasihan kepada iparnya dan kedua anaknya, karena itu ia menyetujui kompromi tersebut dan hanya menerima 80.000 rupi.

Tidak lama setelah itu, Bhagawan datang lagi dalam mimpinya dan memberi petunjuk, “Temui Menteri Jivaraja Halwa.” Waktu itu beliau menjabat sebagai Menteri Kebudayaan & Pemuda ( Youth Culture Minister ) untuk negara bagian Karnataka. Sesuai dengan nasihat Bhagawan, Saroja pergi ke kantor menteri tersebut dan mengisi formulir untuk mohon tunjangan pensiun. Pada waktu itu, petugas di kantor tersebut berkata bahwa waktunya sudah habis, kantor akan tutup, dan ada 6000 pemohon yang sama. Petugas tersebut menyarankan agar Saroja menemui menteri di kediaman beliau saja. Saroja pun menemui menteri tersebut di rumah beliau, mengajukan permohonannya, dan berhasil mendapat tunjangan Rs500,- per bulan ( sekarang kira-kira 100.000 rupiah ). Pada tahun 1980 uang sebesar itu cukup untuk hidup sederhana selama sebulan.

Pada tahun 1980 Saroja mengikuti ujian ( universitas terbuka ) untuk mengambil M.A. dalam bahasa Hindi. Ada satu tugas/paper yang sulit sekali. Kalau sampai tugas itu gagal, ia harus menempuh enam ujian lagi. Saroja menangis dan berdoa di depan foto Baba mohon pertolongan. Malam itu ia bermimpi Shiva datang ke dekatnya, tertawa, dan menari-nari. Keesokan harinya Saroja dapat mengerjakan tugas itu, bahkan nilai yang diperolehnya dua angka lebih tinggi dari pada tugas-tugas lain yang telah dibuatnya.

Sarojaammaa bekerja selama 20 tahun dari tahun 1978-1998 sebagai guru bahasa Hindi di sekolah menengah di Bangalore, kemudian ia mengajukan permohonan berhenti, dan menetap di Puttaparthi. Kini ia mengajar Pendidikan Nilai-nilai Kemanusiaan di beberapa sekolah, termasuk di Iishvaraammaa High School sebagai bakti sosial. Ia juga menulis berbagai artikel mengenai mukjizat Bhagawan Sri Sathya Sai Baba di koran-koran yang berbahasa Telugu dan Kannada.

Setelah tinggal di Puttaparthi, suatu kali ia menghadiri perayaan hari ulang tahun Bhagawan yang diselenggarakan di “Hill View Stadium”. Pada kesempatan itu, Bhagawan masuk ke dalam stadion dengan mengendarai mobil yang didesain berbentuk kereta. Ketika menatap Beliau, Saroja tidak melihat wujud Bhagawan Sri Sathya Sai Baba, melainkan penampakan Sri   Krishna   yang   berkulit    biru,   mengenakan   pitambara ( semacam sarung ) sutra kuning, dan luar biasa tampan.

Senja hari sudah berubah menjadi malam ketika Sarojaammaa menuturkan semua kisah ini. Penulis dan beberapa teman yang mendengarkan tercenung memikirkan betapa banyak cobaan hidup yang dialaminya, tetapi juga kagum melihat bagaimana Bhagawan Baba menolong bakta Beliau. Kami merasa bahwa kita semua  sungguh beruntung karena tidak hanya lahir sezaman dengan Beliau, tetapi juga memiliki Beliau sebagai pembimbing dan pelindung.

Sebagaimana diceritakan oleh Sarojammaa kepada penulis di Prashanti Nilayam, 10-10-2003

DIOBATI DALAM MIMPI

DIOBATI DALAM MIMPI

        Sebelum menetap di kota kelahiran Bhagawan Sri Sathya Sai Baba, Puttaparti, Ny.Dewaki Rani dan suaminya, Srinivas, seorang insinyur sipil, tinggal di Kurnool. Dewaki sudah percaya pada keavataran Bhagawan sejak tahun 1947, ketika ia masih gadis kecil. Akan tetapi, suaminya sama sekali tidak percaya kepada Beliau. Dewaki biasa mengalah dan memilih diam, tidak membicarakan tentang Bhagawan Baba dengan suaminya.

        Pada tahun 1973 ia menemani suaminya pergi ke Anantapur untuk urusan pekerjaan dan mereka tinggal di Guest House. Pada waktu mengangkat bejana tempat air panas di kamar mandi, Srinivas terpeleset dan jatuh. Akibatnya bahu dan punggungnya menjadi sakit sekali. Pemeriksaan rontgen menunjukkan bahwa tidak ada tulang yang patah, tetapi suaminya terus kesakitan. Dokter menasihati agar ia beristirahat selama tiga bulan.

        Tiga bulan telah berlalu, tetapi Srinivas masih mengeluh sakit. Waktu itu Dewaki sedang membaca buku “ Sai Baba, Man of Miracles” *) yang ditulis oleh Howard Murphet.  Ketika ia sibuk melakukan pekerjaan rumah tangga, buku itu diletakkannya di tempat tidur. Suaminya yang disuruh beristirahat oleh dokter, hanya berbaring menganggur di tempat tidur. Ia menemukan buku itu dan mulai membacanya. Dewaki pura-pura tidak tahu dan sengaja tidak mau meminta buku itu, walaupun sebenarnya ia ingin sekali melanjutkan membacanya.

        Keesokan harinya ia heran melihat suaminya yang semalam masih mengeluh sakit, tiba-tiba bersiap mengenakan pakaian yang baik lalu naik jip akan pergi ke tempat tinggal Menteri Kesehatan Masyarakat  ( untuk negara  bagian  Andhra Pradesh ). Mereka akan mencari wilayah yang sesuai untuk membangun waduk buat persediaan air pada musim panas. Ketika Dewaki bertanya, bagaimana dengan bahu dan punggungnya yang sakit, suaminya berkata bahwa kemarin ia membaca buku Sai Baba, Man of Miracles sampai malam lalu  mengantuk dan tertidur.

        Ia bermimpi Bhagawan datang dan bertanya kepadanya, “Kamu kena apa?”  “Saya jatuh di kamar mandi dan sekarang sakit, Swami,” jawabnya. “Mananya yang sakit?” Srinivas mengatakan bahu dan punggungnya. Bhagawan menciptakan vibhuti lalu mengoleskannya pada bahu dan punggungnya. Setelah itu, ia terbangun dan mendapati bahwa nyeri di bahu dan punggungnya sudah lenyap.

        Sejak saat itu Srinivas percaya pada keavataran Bhagawan, bahkan lebih bersemangat daripada Dewaki. Mereka berdua sering berkunjung ke Prashaanti Nilayam. Pada tahun 1997 setelah Srinivas pensiun, suami istri itu menetap di Puttaparti.

*) “Sai Baba Man of Miracles” karya Howard Murphet sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “Sai Baba Manusia Mengagumkan”.

Sebagaimana dikisahkan oleh Ny.Dewaki Rani kepada penulis di Prashanti Nilayam.

KISAH NYATA

        Ada seorang siswa di sekolah Baba yang diam-diam merokok, tetapi tidak mengaku ketika Beliau tanya. Baba kemudian menciptakan sebuah foto yang memperlihatkan anak itu sedang merokok di tempat persembunyiannya. Sejak saat itu si anak berjanji tidak akan pernah merokok lagi.

       ( Sebagaimana dikisahkan oleh seorang staf pengajar dalam wacana sambutan sebelum Bhagawan menyampaikan darmawacana ).

BHAGAWAN MENYELAMATKAN SEEKOR ANJING


        Ketika Ny.Peggy Mason masih berdarmabakti sebagai redaksi “Sathya Sai Baba Magazine” Inggris, ia menerima banyak surat dari pembacanya yang mengisahkan pengalaman mereka dengan Sai Baba. Di antara surat-surat itu ada yang menuturkan pengalaman unik sebagai berikut.

        Bapak dan Ibu B dari Dover, wilayah Kent di Inggris, mempunyai seekor anjing labrador hitam yang sangat mereka sayangi bernama Toska. Pada suatu hari tampaknya anjing itu telah menelan sesuatu yang sangat besar dan tidak dapat memuntahkannya keluar. Benda itu memenuhi lambungnya dan si anjing tidak bisa makan. Bapak dan Ibu B sedih memikirkan keadaan Toska karena dokter hewan mengatakan bahwa anjing itu hanya dapat ditolong dengan operasi, tetapi biayanya yang besar berada di luar kemampuan mereka. Mereka berdua berdoa kepada Baba memohon pertolongan.

        Keesokan harinya ketika sedang memandang ke luar melalui jendela, Ibu B melihat Toska berada di halaman depan. Anjing itu berdiri sambil mengangakan mulutnya, tetapi badannya sama sekali diam, tidak bergerak. Dengan takjub Ibu B melihat secarik kain gombal tua sepanjang 60 cm lebih perlahan-lahan keluar dari mulut Toska, ditarik oleh tangan yang tidak kelihatan. Ketika sedang ditarik keluar, kain gombal itu berada di udara dalam posisi horizontal. Hanya setelah keluar seluruhnya, benda itu jatuh ke tanah. Kemudian anjing itu bersikap normal lagi seperti biasa dan dengan riang berjalan masuk ke dalam rumah.

        Setelah peristiwa ini, Bapak B mengajak istrinya dan si Toska yang beruntung berkunjung menemui Ny.Peggy Mason.

Kiriman: T. Retno Buntoro

SAI DANVANTARI


Tidak Ada Basil Tetanus

        Dr.N.M. Alreja, mantan pimpinan Rumah Sakit Umum Sri Sathya Sai-Prashanti Nilayam, menceritakan pengalamannya. Ia mulai berdarmabakti di RSU Sri Sathya Sai Prashanti Nilayam dua puluh tahun yang lalu pada perayaan ulang tahun Bhagawan Baba yang ke-50. Pada suatu hari ia menuliskan daftar obat-obatan yang diperlukan untuk rumah sakit kemudian daftar tersebut ia berikan kepada Bhagawan. Salah satu di antaranya adalah serum anti tetanus ( A.T.S.D. ). Swami bertanya kepada dr.Alreja, “Mengapa ATS ada dalam daftar?” Dr.Alreja berkata, “Kami memberikannya sebagai perawatan rutin kepada pasien yang terluka.” Swami menjawab, “Tidak ada baksil tetanus di wilayah ini. Engkau tidak perlu memberikannya sebagai rutin, tetapi kalau ada pasien yang mendesak memintanya, berikan.” Selama bekerja 20 tahun di RSU Sri Sathya Sai, ia belum pernah melihat satu pun kasus tetanus.

Kanker Lidah Disembuhkan

        Suatu hari pengacara K, pemilik sebuah pabrik minyak, datang ke ashram. Ia seorang perokok berat dan terkena kanker lidah. Para dokter memberi nasihat agar ia menjalani operasi ditambah dengan radiasi dan kemoterapi. Ia datang menemui Swami mohon izin untuk operasi. Swami memanggilnya untuk interview, menciptakan segenggam vibhuti, dan menyuruh orang itu menelannya. Vibhuti tersebut berwarna hitam dan terasa pahit sekali. Swami membujuk K agar menghabiskan abu suci itu. Setelah interview selesai, K mengajak saya minum kopi di kantin. Sukarelawan yang bertugas  memberinya  secangkir  kopi   dan   sepiring  pakoda ( penganan yang digoreng dan terasa asin ). Ia tidak dapat menahan keinginannya makan pakoda. Setelah selesai, ia berkata bahwa sampai saat itu ia tidak dapat makan pakoda karena kanker di lidahnya. K meraba mulutnya dengan jari dan mendapati bahwa kankernya sudah lenyap. Ia menangis karena terharu.

        Hari berikutnya Swami memanggil K untuk interview lagi. Ia mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada Swami karena menyembuhkan kankernya dan mohon agar diizinkan menerjemahkan majalah Sanathana Sarathi ke dalam bahasa Sindhi serta menerbitkannya. Swami menjawab, “Justru untuk inilah engkau Kupanggil ke Puttaparti.”

        Setelah itu K mulai menerjemahkan dan menerbitkan Sanathana Sarathi dalam bahasa Sindhi.

Sari Jeruk Nipis untuk Menghentikan Muntah Darah

        Suatu kali Naaraayana Appa, 45 tahun, dibawa ke rumah sakit karena muntah darah. Ia diinfus dan disuntik, tetapi muntah darahnya tidak berhenti. Karena ia telah kehilangan banyak darah, dr.Alreja menyarankan agar pria itu dibawa ke Anantapur atau Bangalore untuk transfusi darah karena pada waktu itu di RSU Prashaanti Nilayam belum ada perlengkapan transfusi. Ternyata Swami mengetahui hal ini. Beliau memanggil dr.Alreja dan berkata, “Kalau kaukirim ia ke sana, ia akan meninggal di jalan.” Dr.Alreja bertanya kepada Swami, “Jadi, apa yang harus saya lakukan?” Swami memanggil Raadhakrishna, menyuruhnya memeras enam jeruk nipis, lalu membawa sari buahnya dalam termos. Ketika Raadhakrishna membawa jus itu, Swami menuangkan sebagian ke dalam gelas, meminumnya sedikit, lalu menuangkannya kembali ke dalam termos. Swami memberitahu dr.Alreja agar pasien diberi satu sendok makan sari jeruk nipis itu tiap sepuluh menit dan infusnya diteruskan. Setelah itu, muntah darahnya berhenti dan tidak pernah kambuh lagi sampai kisah ini ditulis, lima belas tahun kemudian.

Swami Menanggapi Doa

        Pada kesempatan lain ada seorang wanita bernama Siitaalakshmi yang menderita diabetes dan penyakit jantung. Ia tinggal di Prashaanti Timur. Suatu hari ketika pulang dari rumah sakit, dr.Alreja menengoknya dan keadaannya tampak baik-baik saja. Dr.Alreja pergi ke mandir lalu duduk di serambi untuk mengikuti bhajan sore. Setelah lagu kebaktian berlangsung kira-kira 15 menit, Swami datang ke tempat dr.Alreja dan berkata, “Siitaalakshmi sakit parah. Pergi dan tengok dia sekarang juga. Swami baru saja menerima telegram.”

        Dengan sangat heran dr.Alreja bangkit lalu menjenguk si sakit. Wanita itu tidak sadarkan diri, denyut nadinya cepat dan tekanan darahnya rendah. Ia telah melakukan sendiri suntikan insulin, dan botol serta alat suntiknya terletak di meja. Dr.Alreja memberikan glukose lalu keadaan wanita itu membaik. Ia belum makan karena menunggu suaminya yang belum pulang dari tugas. Dr.Alreja bertanya kepada putra wanita itu, apakah ia mengirim telegram kepada Swami. Pemuda itu berkata bahwa tidak ada yang mengirim telegram, tetapi ia berdiri di depan foto Swami dan berdoa dengan sungguh-sungguh mohon agar Beliau menyelamatkan ibunya. Doa itu sampai kepada Swami waktu kidung suci sedang berlangsung. Setelah itu, Swami menjelaskan bahwa bila seseorang berdoa dengan sungguh-sungguh di depan foto Beliau atau foto Avatar yang mana saja, maka doa itu akan sampai kepada Beliau dan orang yang bersangkutan tidak perlu datang ke Puttaparti.

Garis Lakshmana

        Pada kesempatan lain di ashrama sekolah ada seorang siswa yang menderita demam tinggi dan kakinya bengkak. Ia diberi antibiotik keras dan larutan garam, tetapi bagian yang merah meradang tidak mereda, bahkan meluas. Dr.Alreja menemui Swami dan melaporkan kasus ini. Swami menyuruh d.Alreja pergi ke ashrama sekolah dan berkata bahwa Beliau akan segera menyusul. Swami menengok siswa itu, menciptakan abu suci, dan memberikan sebagian kepadanya untuk dimakan. Sejumlah vibhuti Beliau gosokkan pada kaki siswa tersebut. Dengan jari telunjuk Beliau membuat garis melingkari bagian tengah paha. “Tidak akan menjalar lebih jauh. Teruskan pengobatanmu,” kata Beliau, kemudian pergi. Bengkak di kaki anak yang diberi garis itu lenyap dan tiga hari kemudian ia sembuh. Shirdi Baba juga pernah menghentikan racun kobra di kaki seorang bakta agar tidak naik dan menjalar ke seluruh tubuh.

Baba Menghentikan Wabah Flu

        Suatu kali wabah influinsa merebak di SMU Prashanti Nilayam. Setelah kidung suci sore selesai, Swami menyuruh dr.Alreja menjenguk anak-anak di asrama. Dr.Alreja pergi ke asrama menengok sekitar 15- – 200 anak yang demam, batuk, dan muntah-muntah. Ruang khusus untuk siswa yang sakit dipenuhi oleh tiga puluh anak. Jelas sekali wabah itu sudah tidak terkendali.

        Dr.Alreja kembali dari asrama sekolah pada pukul 20.00 dan langsung menuju ke kamarnya sambil berpikir  bahwa kamar Swami sudah ditutup pukul 20.00, jadi ia akan lapor kepada Swami keesokan paginya. Kira-kira pukul 20.30 seorang sukarelawan datang ke kamar dr.Alreja dan berkata bahwa Swami memanggilnya. Dengan tergesa-gesa dr.Alreja menemui Swami. Beliau berkata, “Swami sudah menunggu-nunggu kedatanganmu. Mengapa engkau tidak langsung menemui Swami?” Dr.Alreja menjawab bahwa ia pulang terlambat, sudah lewat pukul delapan malam, dan ia pikir kamar Swami telah ditutup, karena itu ia pergi ke kamarnya.

        Ia lapor kepada Swami, “Kira-kira 200 anak menderita influinsa dan tampaknya wabah ini tidak dapat dikendalikan. Selain pengobatan simptomatik, tidak ada antibiotik yang manjur. Hanya Swami yang dapat melakukan sesuatu untuk menghentikan penyebarannya.”

        Keesokan paginya Swami mengunjungi sekolah dan asrama. Beliau berjalan melalui semua koridor serta ruang-ruang kelas, juga pergi ke teras atas, walaupun kepala sekolah memberi tahu Beliau bahwa tempat itu belum dibersihkan.

        Swami minta diambilkan seember air. Beliau menciptakan banyak vibhuti dan menaruhnya dalam air. Beliau memberi-tahu seorang guru agar memberikan sesendok air bercampur abu suci ini kepada setiap anak dan juga para guru.

        Wabah itu tidak menjalar lagi dan lenyap setelah empat hari. Dalam kehidupan yang lampau sebagai Avatar di Shirdi, Swami juga menghentikan wabah kolera sehingga tidak merebak di Shirdi.     Hal-hal yang dilakukan Swami sungguh menakjubkan. ang

GEMPA BUMI DI MEKSIKO


        Ada beberapa cerita menakjubkan tentang pengalaman para pengikut Sai pada waktu terjadi gempa bumi yang mengerikan di Meksiko pada bulan September tahun 1985.

        Ketika mendengar tentang bencana itu, ada yang bertanya kepada Swami mengenai umat Beliau di kota tersebut dan Swami menjawab bahwa mereka selamat. “Ada kerusakan harta milik, tetapi tidak ada cedera badan,” dan ini terbukti benar. Umat dari Meksiko yang datang ke Prashanti Nilayam untuk menghadiri perayaan hari ulang tahun Baba ( yang ke-60 ) membenarkan hal ini dan menceritakan berbagai kisah bagaimana para bakta lolos secara ajaib.

        Nancy Anne Zabler menceritakan pengalaman orang tua seorang bakta. Suami istri itu bukan pengikut Baba, tetapi putri mereka mengikuti ajaran Baba dan percaya penuh kepada Beliau. Lolosnya orang tua gadis itu dari maut sungguh menakjubkan.

        Mereka tinggal di kota Meksiko dalam gedung bertingkat enam dan flat mereka terletak di lantai teratas. Gadis itu menuturkan sebagai berikut. Ketika gempa bumi berlangsung, ayah saya sedang tidur dan ibu segera berlari menolong. Ketika ibu membantu ayah mengenakan pakaian, sebuah tiang yang besar runtuh dekat kaki mereka, tetapi tidak mengenai mereka. Kemudian dengan heran mereka melihat seluruh bangunan tingkat enam meluncur roboh ke samping melewati mereka. Bangunan itu tidak runtuh menimpa mereka, tetapi meluncur ke samping dan mereka sama sekali tidak kena apa-apa. Saat berikutnya mereka menengadah ke atas dan melihat langit yang luas menaungi mereka, bukannya langit-langit rumah seperti semula. Kemudian segala sesuatu berlangsung cepat sekali … mereka dapati diri mereka terduduk di atas timbunan puing-puing … ada luka-luka sedikit, tetapi keduanya sehat ketika Nancy Anne mendengar kisah pengalaman mereka.

                              Sebagaimana dikisahkan oleh Nancy Anne. 0

SWAMI MENGEMBALIKAN MANGGALA SUTRA YANG DIJAMBRET

SWAMI MENGEMBALIKAN MANGGALA SUTRA YANG DIJAMBRET

        Ny. S. Kanapathy dari Medan adalah wanita yang banyak melakukan darmabakti dalam berbagai kegiatan Organisasi Sai, mendampingi suaminya—S. Kanapathy—ketua Sai Center Kumarasanthi, Medan.

        Pada bulan Desember 1992 ia pergi ditemani putrinya untuk membagikan undangan buat acara pemberian nama cucunya. Ketika sedang berjalan di Jalan Panglima Nyak Makam, tiba-tiba seorang pria melewatinya sambil merenggut sesuatu kemudian melarikan diri. Ny. S. Kanapathy begitu terkejut sehingga hanya terbengong-bengong, sementara itu ia melihat orang-orang di jalan mengejar penjambret sambil berteriak, “Rampok, rampok,” tetapi lelaki itu lolos.

        Ny. S. K. memeriksa perhiasan yang dikenakannya, ingin tahu apa yang hilang. Alangkah terkejutnya ketika didapatinya kalung dan manggalasutra-nya hilang. Bagi wanita India, manggalasutra yang diterimanya pada upacara pernikahan merupakan simbol status perkawinan dan dianggap sakral. Ia termangu-mangu sedih memikirkan bahwa bulan depan, pada tanggal 21 Januari, ia akan merayakan ulang tahun pernikahan mereka, dan kini pada bulan Desember manggalasutra-nya dijambret. Sungguh kejadian yang sangat menyedihkan, lebih parah daripada sekadar kehilangan perhiasan, tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa selain dengan diam mengadukan nasibnya kepada Bhagawan Sri Sathya Sai Baba. Waktu itu pukul sebelas siang dan Ny. S. K. kemudian pergi ke pasar untuk berbelanja.

        Pukul satu siang ketika mereka tiba di rumah dan putrinya menceritakan kejadian itu, putrinya yang tertua menanyakan, apa yang hilang dijambret. Ny. S. K. terdiam tidak dapat menjawab karena menahan tangis.  Pada waktu itu mereka sedang duduk di depan altar Swami, tempat berbagai foto Bhagawan Sri Sathya Sai Baba dihormati sebagai Avatar dan Guru Agung. Saat itu, cucunya yang tertua, Gayatri, pulang dari sekolah dan mengetahui bahwa neneknya tidak menjawab, ia berkata, “Kalau Kakek pulang nanti, pasti Nenek akan menjawab apa ( yang hilang ).”

        Tiba-tiba mereka semua mendengar suara barang jatuh. Gayatri bertanya, “Apa itu?” Mereka mencari di lantai. Sungguh ajaib! Ternyata manggalasutra yang dijambret di jalan itu jatuh entah dari mana dan diketemukan di depan altar Swami. Betapa besar belas kasihan Bhagawan kepada bakta Beliau.

Sebagaimana dituturkan oleh Ny. S. Kanapathy kepada penulis

Di Prashaanti Nilayam.

BHAGAWAN MENGUBAH WAKTU DENMARK MENJADI WAKTU INDIA


        Ny.X., seorang wanita setengah baya dari Denmark ( yang tidak mau disebutkan namanya ) menceritakan pengalamannya. Pada tahun 1998 ia datang keempat kalinya ke India untuk mendapatkan darshan Bhagawan Sri Sathya Sai Baba. Malam sudah larut ketika ia tiba di sebuah hotel di Bangalore dan mendengar bahwa pagi itu Swami telah meninggalkan ashram Beliau di Kadugodi, di tepi kota Bangalore, menuju Prashanti Nilayam, Puttaparti.

        Ny.X merasa lelah, mengantuk, dan ingin segera beristirahat, tetapi teringat bahwa keesokan harinya ia harus bangun pagi untuk pergi ke Puttaparti menyusul Swami. Ia juga harus menyesuaikan jam wekkernya yang tadinya disetel dalam waktu Denmark, dengan waktu India yang berbeda kira-kira 4 ½ jam.  Karena itu, ia bangkit dari tempat tidur, membuka kopernya, mengambil jang wekker, dan mengamatinya …. Astaga!…  Alangkah herannya Ny.X. Ternyata jam wekkernya sudah disetel dalam waktu India. Ia merasa terharu karena sadar bahwa Swami selalu memperhatikan bakta Beliau, walaupun untuk hal-hal yang tampaknya sepele.