Ketika penulis berkunjung ke rumah Nn.Krishna– seorang sarjana bahasa Sanskerta–untuk menanyakan arti suatu kata, secara kebetulan ia berjumpa dengan Nn.Shaila yang sedang bertandang ke situ. Pada waktu Shaila, gadis cantik yang tinggi dan langsing, mendengar bahwa penulis gemar menulis pengalaman para bakta dalam kaitannya dengan Bhagawan Sri Sathya Sai Baba, maka dengan senang hati ia menceritakan pengalamannya.
Shaila adalah anak bungsu dan putri satu-satunya dalam keluarga. Ia tinggal bersama orang tuanya dan salah satu abangnya yang sudah menikah di Tumkur, suatu wilayah baru yang berkembang pesat di pinggiran kota Bangalore.
Pada tahun 1990 ketika berusia 18 tahun, ia pernah pergi ke Ashram Bhagawan Sri Sathya Sai Baba di Kadugodi, pinggiran kota Bangalore, bersama rombongan penyanyi kidung suci dari Pura Bhagawan di Tumkur, untuk mendapatkan darshan Beliau. Pada waktu itu ia sekadar ingin melihat Bhagawan karena mendengar tentang kekuatan adikodrati Beliau yang luar biasa. Dalam darshan, ketika Bhagawan berjalan dan lewat di depannya, ia mencium bau wangi yang tidak dapat dijelaskannya. Sampai pulang pun di rumah sepanjang hari ia tetap mencium bau wangi itu.
Pada tahun 1991-1992 seorang kenalan ibunya datang berkunjung ke rumah mereka dan menceritakan musibah yang dialami keluarganya sambil menangis. Wanita tersebut mempunyai anak laki-laki berusia 4 ½ tahun yang menderita polio. Ternyata dokter menemukan bahwa kaki anak kecil itu ditumbuhi kanker ganas dan harus segera diamputasi untuk menyelamatkan hidupnya.
Mendengar itu, Shaila teringat pada kisah yang sering di dengarnya tentang keampuhan vibhuti Baba. Kebetulan ia mempunyai gambar Bhagawan Sri Sathya Sai Baba. Ia juga mempunyai vibhuti yang diambilnya dari mandir Bhagawan Baba di Tumkur. Gambar dan vibhuti tersebut diberikannya kepada teman ibunya dengan pesan agar wanita itu berdoa kepada Bhagawan Baba mohon pertolongan untuk putranya, dan agar vibhuti tersebut dioleskan pada kaki si bocah yang sakit. Tidak lama setelah itu, Shaila mendengar bahwa kira-kira seminggu setelah menggunakan vibhuti, ketika anak kecil itu diperiksa lagi di rumah sakit, dokter mendapati bahwa kankernya sudah lenyap. Dengan nada kecewa Shaila berkata bahwa walaupun wanita itu telah mengalami mukjizat seperti itu, sampai sekarang ia dan keluarganya belum pernah datang berkunjung ke Prashanti Nilayam.
Pada awal tahun 90-an, Shaila yang waktu itu gadis remaja, masih mencari-cari guru. Ia mengira bahwa Bhagawan Sri Sathya Sai Baba hanyalah salah satu di antara guru-guru spiritual yang banyak terdapat di India. Ia juga bimbang ketika mendengar beberapa orang yang tidak percaya, menuturkan cerita yang negatif tentang Bhagawan Baba. Selain itu, orang tua dan saudara-saudaranya di rumah tidak ada yang berminat pada Bhagawan Baba. Shaila merasa bahwa pada waktu itu ia masih terlalu muda, belum mampu membuat pertimbangan yang baik dan mengambil keputusan. Jadi ia sering pergi ke ashram-ashram lain dan menemui banyak swami atau saadhu.
Shaila sering merasa gelisah tanpa ia ketahui sebabnya dan sejak tahun 1993 ia selalu sakit-sakitan. Badannya sebelah kanan dari kepala hingga ujung ibu jari kaki terkena rematik arthritis dan sering sakit sekali. Pada waktu itu ia sering berkunjung ke Chinmaya Mission, ashram Swami Chinmayananda di Tumkur. Salah seorang brahmachari ( semacam novis ) di situ mengajak Shaila agar bergabung di Chinmaya Mission, tetapi Shaila menolak.
Pada suatu hari pada bulan Oktober 1996 setelah bercakap-cakap dari hati ke hati dengan seorang teman lain yang juga menjadi brahmachari di ashram tersebut, teman itu pun mengajak Shaila agar bergabung menjadi brahmachari di Chinmaya Mission. Ketika Shaila menolak, gadis itu berkata bahwa malam itu ia akan berdoa kepada gurunya, Swami Chinmayaananda ( yang waktu itu sudah meninggal ), agar beliau membimbing Shaila. Sungguh luar biasa! Malam itu Shaila bermimpi melihat Bhagawan Sri Sathya Sai Baba dan Swami Chinmayaananda. Dalam mimpi itu ia melihat Swami Chinmayaananda sedang duduk dalam samaadhi ( meditasi yang mendalam ) dengan mata terpejam. Di sampingnya berdirilah Bhagawan Sri Sathya Sai Baba. Swami Chinmayaananda membuka mata, menatap Shaila, lalu berkata, “Jangan takut. Pergilah ke Bhagawan Sri Sathya Sai Baba. Beliau gurumu. Beliau akan membawamu ke tujuan.” Bhagawan Baba hanya berdiri di sebelah Swami Chinmayaananda dan memandang Shaila sambil tersenyum. Lalu Shaila terbangun.
Kini Shaila berusia 24 tahun dan kerinduannya untuk mempunyai seorang pembimbing spiritual meningkat. Tadinya ia memang merasa bimbang tentang Bhagawan Sri Sathya Sai Baba, tetapi setelah mimpi ini keraguannya lenyap. Ia ingin pergi ke Prashanti Nilayam untuk mendapatkan darshan Beliau, tetapi ia belum pernah pergi ke Puttaparti dan tidak tahu akan pergi bersama siapa ke sana. Akhirnya ia mendapat ide. Ny.Venkatalakshmamaa yang tinggal di Koratagare– suatu wilayah di luar kota Bangalore, kira-kira satu jam perjalanan dengan bus dari rumahnya– secara fisik masih kerabat dengan Bhagawan Sri Sathya Sai Baba. Selain itu, suami nyonya tersebut adalah teman sekantor ayahnya yang bekerja sebagai inspektur polisi. Shaila pergi menemui Ny.Venkatalakshma-maa, menceritakan mimpinya, dan minta diantar pergi ke Puttaparti. Bulan Oktober itu juga ( tahun 1996 ) Ny. Venkatalakshmamaa mengajaknya pergi ke Prashanti Nilayam, Puttaparti, akan tetapi kepada ibunya, Shaila hanya berpamitan bahwa ia pergi ke Koratagare, ke rumah Ny.Venkatalakshmamaa.
Keesokan harinya ia pergi ke darshan. Karena Shaila datang bersama kerabat Swami, ia diizinkan duduk di depan. Ketika Bhagawan datang memberikan darshan dan Shaila melihat Beliau, ia sangat tersentuh dan air matanya mengucur terus, ia sendiri tidak tahu mengapa begitu. Ia tinggal selama tiga hari di Prashanti Nilayam, kemudian pulang ke Tumkur.
Sementara itu, di rumah ibunya merasa cemas karena Shaila, anak bungsu dan putri tunggalnya, berpamitan pergi ke Koratagare, tetapi sampai tiga hari belum pulang. Pada waktu itu di rumah mereka belum ada telepon sehingga ia tidak dapat menelepon Ny.Venkatalakshmamaa. Akan tetapi, Bhagawan Baba Yang Mahatahu dan penyayang menenangkan hati Ibu Shaila dengan cara Beliau yang khas. Malam itu sang ibu bermimpi melihat Shaila sedang duduk bersama orang banyak di tempat darshan di Prashanti Nilayam. Ketika Shaila pulang ke Tumkur dan menceritakan pengalamannya pergi ke Prashanti Nilayam kepada ibunya, sang ibu berkata, kalau begitu, dengan berkat Bhagawan, ibu melihat engkau di sana.
Pada bulan Februari 1997 Shaila datang lagi ke Prashanti Nilayam bersama rombongan “Seva Dal” ( anggota Organisasi Darmabakti Sri Sathya Sai ) dari Tumkur untuk melakukan bakti sosial selama seminggu di ashram. Shaila heran karena ia tidak merasa lelah bekerja, menyapu halaman ashram, dan sebagainya. Pada waktu itu, setelah masa darmabakti selesai, maka sebelum pulang, rombongan seva dal diizinkan melakukan paadaanamaskaar ( mendapat berkah dengan menyentuh kaki Bhagawan ). Setiba di rumahnya di Tumkur, Shaila berbaring untuk beristirahat. Tiba-tiba ia merasa ujung jari tengah tangan kanannya seperti tersetrum listrik. Setelah itu, artritis yang dideritanya sejak tahun 1993 di bagian badan sebelah kanan sembuh dan nyerinya lenyap. Sampai sekarang tidak pernah kambuh lagi.
Shaila masih menderita gangguan kesehatan lain. Ia sering merasa sakit-sakit di seluruh tubuhnya, terutama di punggung. Ini pun akhirnya disembuhkan oleh Bhagawan setelah ia ikut serta melakukan bakti sosial di ashram Whitefield bersama anggota Seva Dal. Shaila tidak pernah lupa bagaimana hal itu terjadi.
Pada bulan April 1998 –1999 sebagai anggota Seva Dal, ia disuruh datang ke ashram Whitefield-Kadugodi pada pukul 6.30 pagi untuk membantu di sana. Waktu itu musim panas, Bhagawan Baba tinggal di ashram Beliau di Kadugodi, Bangalore. Ribuan umat datang untuk darshan Beliau di situ. Karena itu, ashram sibuk sekali dan banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Akan tetapi, sulit sekali mendapatkan bus dari Bangalore ke Kadugodi pada pagi hari. Karena menunggu bus sampai lama, akhirnya ia terlambat dan baru sampai di ashram Kadugodi pada pukul 8.30 pagi. Pada waktu itu darshan telah usai dan pimpinan Seva Dal di sana menyuruhnya pulang. Dengan kecewa Shaila berjalan keluar dari gerbang utama meninggalkan kompleks ashram, kemudian menunggu bus di perhentian bus di depan pintu ashram bagian dalam. Dalam hati ia marah dan mengomel kepada Baba. Pada waktu itu ia sendirian, tidak ada orang lain di perhentian bus. Tiba-tiba pintu gerbang ashram bagian dalam ( gerbang untuk penghuni tetap ) terbuka dan Bhagawan muncul di situ, menengok ke luar, menatap Shaila sambil memberikan berkat dalam sikap abhayamudra, kemudian masuk lagi. Bukan main senangnya Shaila. Ia merasa sangat bahagia. Tak lama kemudian seorang ibu anggota Seva Dal memanggilnya masuk, menyuruhnya pergi ke bangsal dan membantu menyapu halaman di sana. Aneh sekali, sementara ia sibuk bekerja, rasa sakit-sakit di tubuhnya lenyap dan ia juga sama sekali tidak merasa lelah. Semakin bekerja, ia merasa semakin penuh energi. Setelah itu, ia sering pergi ke ashram Bhagawan di Kadugodi.
Ibu Shaila merasa tidak senang mengapa putrinya sering pergi ke Kadugodi dan selalu mencoba menghalanginya. Pada suatu malam Bhagawan Baba datang dalam mimpi sang ibu dan berkata, “Jangan khawatir. Ia ( Shaila ) Kujaga. Segala hal yang berkaitan dengannya akan beres dan baik.” Sejak itu ibunya tidak keberatan lagi bila ia pergi ke Kadugodi.
Shaila sering pergi ke Mandir Sathya Sai di Tumkur. Ia sering mendengar tentang kehebatan vibhuti Bhagawan, karena itu di dalam hati ia berkata kepada Baba bahwa ia ingin melihat keampuhan vibhutti Beliau. Tidak lama kemudian Bhagawan menanggapi doanya. Di dekat rumah Shaila ada sebuah klinik bersalin. Seorang ibu, teman kakak ipar Shaila, membawa putrinya ke sana untuk bersalin. Sayang sekali bayi yang dilahirkan putrinya meninggal. Setelah mengetahui bayinya meninggal, wanita muda itu menjadi kurang waras dan tingkah lakunya menjadi liar, tidak terkendali. Sang ibu berkunjung ke rumah Shaila untuk menceritakan keadaan putrinya kepada temannya, yaitu kakak ipar Shaila. Shaila ikut mendengarkan keluhan ibu tersebut dan ia langsung teringat pada vibhutti Bhagawan. Ia mempunyai vibhutti Bhagawan yang diambilnya dari Mandir Sathya Sai di Tumkur. Diberikannya abu suci itu kepada ibu tersebut dengan pesan agar dioleskan sedikit di dahi putrinya, selain itu juga agar vibhuti itu dicampur sedikit air, kemudian diminumkan juga kepada pasien. Sungguh ajaib. Setelah menggunakan vibhutti Bhagawan, wanita muda itu menjadi normal lagi, kesehatannya membaik, dan ia diizinkan pulang.
Pengalaman-pengalaman ini membuat keyakinan Shaila pada keavataran Bhagawan semakin mantap. Ia tahu bahwa Bhagawan selalu memperhatikan bakta Beliau, dan ia merasa bersyukur mendapatkan Bhagawan Sri Sathya Sai Baba sebagai pembimbing spiritual. \p
