SHIVA DAN BHAGAWAN SRI SATHYA SAI BABA

      Suatu sore ketika penulis duduk di tempat darshan menunggu kedatangan Bhagawan, Nn.Gita, teman penulis, seorang wanita asal Srilangka, menceritakan pengalaman kenalannya di negara tersebut. Ia menekankan bahwa kenalannya  tidak suka bila namanya diketahui orang lain. Jadi penulis tidak mendesak Nn.Gita untuk menyebutkannya.

        Kenalannya adalah seorang wanita yang suka bergaul, senang pergi ke pesta, dan gemar membaca novel. Suami wanita itu adalah pemuja Shiva dan ia memasang gambar Shiva di altar ruang doanya.

        Pada suatu hari teman wanita itu memberinya foto Bhagawan Sri Sathya Sai Baba tanpa memberi penjelasan selengkapnya. Ia hanya mengatakan bahwa itu gambar orang suci. Wanita itu menerima gambar Bhagawan dan menyelipkannya di buku novel yang sedang dibacanya. Ia tidak tahu apa-apa mengenai Bhagawan Baba, sama sekali tidak pernah mendengar atau membaca buku tentang Beliau. Ia hanya melihat bahwa orang dalam gambar itu mengenakan jubah oranye. Lalu ia teringat bahwa warna oranye biasanya adalah warna jubah rahib. Jadi ia merasa sebaiknya foto itu tidak diletakkan sebagai pembatas buku pada novel, melainkan lebih tepat diletakkan di ruang doa. Dengan gagasan itu, diletakkannya gambar Bhagawan di altar, di samping gambar Shiva yang dipuja suaminya.

        Ketika suaminya pulang dari kerja dan mendapati gambar seseorang berjubah oranye di samping gambar Shiva pujaannya, ia menjadi jengkel dan menyuruh istrinya menyingkirkan gambar tersebut.

        Malam itu ketika tidur, suami wanita itu bermimpi bahwa Shiva yang dipujanya hidup dan berada di hadapannya. Kemudian Shiva membuka mulut lebar-lebar dan dari mulut Beliau keluarlah Bhagawan Sri Sathya Sai Baba. Mula-mula kecil, kemudian menjadi luar biasa besar, sedangkan Shiva lenyap. Hanya Bhagawan Sri Sathya Sai Baba yang ada. Kemudian Bhagawan Baba membuka mulut Beliau dan dari situ keluarlah Shiva, mula-mula kecil, kemudian menjadi luar biasa besar, sedangkan Bhagawan Baba lenyap. Hanya Shiva yang ada. Shiva membuka mulut, kemudian Bhagawan Baba keluar dari situ. Demikianlah hal yang sama terulang terus. Setelah itu pria tersebut terbangun dan merasa sangat heran. Ia menceritakan mimpinya yang luar biasa kepada istrinya.

        Mereka mulai bertanya-tanya dan mencari keterangan mengenai orang berjubah oranye yang ada dalam gambar itu. Demikianlah mereka mulai mendengar tentang Bhagawan Sri Sathya Sai Baba dan membaca buku-buku tentang Beliau.  Kemudian mereka mengetahui bahwa Beliau adalah perwujudan    Shiva    Shakti   dan   Sarva   Dewata   Swarupa ( pengejawantahan segala wujud Tuhan ). Sekarang mereka menjadi bakta yang penuh semangat. Wanita yang tadinya gemar pergi ke pesta itu sekarang gemar mengikuti acara kidung suci. Ia tidak gemar membaca buku novel lagi, melainkan membaca buku-buku spiritual, terutama buku-buku tentang Bhagawan Baba. Demikianlah Bhagawan Baba mengubah hidup mereka.

PERLINDUNGAN BHAGAWAN


        Pada perang Pakistan-India tahun 1971 sejumlah prajurit dari angkatan bersenjata India berkunjung untuk mendapatkan berkat Bhagawan. Dalam interview Swami menciptakan banyak foto Beliau dan membagikannya kepada mereka.

        Di kemudian hari salah seorang prajurit mendapati dirinya terpisah dari teman-teman sepasukannya dan dikepung oleh tentara Pakistan. Mereka berteriak kepadanya agar ia menyerah atau mati. Amunisinya sudah habis, tetapi prajurit itu pantang menyerah. Ia bertekad, lebih baik memasang bayonetnya dan maju menghadapi musuh daripada menyerahkan diri. Ia keluar dari parit perlindungannya dan mulai maju. Pada waktu itu tiba-tiba ia teringat pada foto pemberian Bhagawan. Dikeluarkannya foto itu dari dalam jaketnya lalu diacungkannya …. Entah dalam wujud apa Swami memperlihatkan diri, tidak seorang pun tahu, tetapi seakan-akan ada api yang maju ke arah tentara yang mengepungnya. Mula-mula mereka berhenti menembak, membuang senjata-senjata mereka, lalu mengambil langkah seribu.

BHAGAWAN MENGUBAH PENCURI MOBIL

        Dalam perayaan Dasara di Prashanti Nilayam, setiap sore diadakah pertemuan Prashanti Vidwan Mahasabha. Pada kesempatan itu beberapa staf pengajar menceritakan pengalaman luar biasa tentang Bhagawan Sri Sathya Sai Baba yang dialami keluarga, teman, atau kenalan mereka. Berikut ini adalah kejadian menarik yang diceritakan oleh Dr.Rucir Desai, dosen di Jurusan Perdagangan Sri Sathya Sai Institute of Higher Learning, Prashanti Nilayam.

Pada suatu sore, malam minggu, seorang pemuda bakta Sai di Manhattan, New York, pergi menghadiri acara kidung suci ( bhajan ). Mobilnya diparkir tidak jauh dari tempat diselenggarakannya kidung suci. Sungguh malang pemuda itu, ketika kidung suci usai dan ia akan pulang, didapatinya mobilnya lenyap, tidak ada lagi di tempat parkir.

        Ia segera pergi melapor ke kantor polisi. Akan tetapi polisi tidak mau mencatat kasusnya dengan alasan, apa gunanya mencatat kasus ini karena begitu banyak mobil yang sudah hilang dan tidak bisa diketemukan. Pemuda itu tetap bersikeras sehingga akhirnya polisi bersedia mencatat kasusnya.

        Selain melapor ke polisi, pemuda itu juga memberitahu teman-teman bakta Sai, teman kantor, dan sanak keluarganya, kalau-kalau mereka melihat mobilnya. Akan tetapi, semua menyatakan tidak melihat mobil itu. Akhirnya satu-satunya yang dapat dilakukannya hanyalah berdoa dan mohon pertolongan Bhagawan.

        Beberapa hari setelah itu ada seseorang yang meneleponnya. Orang itu bertanya, “Apakah Anda orang yang kehilangan mobil?” Pemuda tersebut balik bertanya, “Anda siapa?” Akan tetapi penelepon tidak mau menjawab dan meletakkan teleponnya. Hal ini terulang lagi dan penelepon tetap tidak mau mengatakan identitasnya. Setelah beberapa waktu, orang yang sama menelepon lagi dan ketika ditanya identitasnya ia berkata, “Sayalah orang yang mengambil mobil Anda. Mobil Anda akan saya kembalikan.” Orang itu memberitahu pada hari apa, pukul berapa, di mana ia dapat mengambil mobilnya. Pemuda itu bingung dan cemas. Ia bingung memikirkan mengapa pencuri mobil memberitahu bahwa mobilnya akan dikembalikan. Adakah pencuri yang akan mengembalikan barang curiannya? Apa gerangan maksud orang itu? Apakah mereka akan memerasnya? Atau  barangkali ada niat lain yang tidak baik? Ia berdoa mohon perlindungan Bhagawan, kemudian pada hari yang diberitahukan oleh penelepon, ia pergi bersama empat pemuda kawan baiknya ke tempat yang disebutkan. Ternyata ia memang menemukan mobilnya di parkir di tempat itu. Ketika dibuka dan diperiksa, didapatinya semua barang di dalamnya masih utuh, tidak ada yang hilang. Dengan heran dan senang, mobil itu dibawanya pulang.

        Beberapa hari kemudian orang yang menyatakan diri sebagai pencuri mobil itu menelepon lagi. Ia berkata, “Katakan kepada saya, siapa orang berpakaian oranye yang fotonya ada di mobil Anda?” “Kenapa?” tanya pemuda itu. “Katakan siapa dia!” desak pencuri mobil. “Katakan dulu kenapa, nanti saya beritahukan siapa Beliau.” Tadinya orang itu enggan. Telepon ditutup. Akan tetapi, rupanya ia sangat gelisah dan ingin sekali tahu sehingga menelepon lagi. Ketika didesak oleh pemuda itu, akhirnya pencuri mobil mengalah dan menceritakan kejadian yang dialaminya.

        Ia dan seorang temannya adalah pencuri mobil kawakan. Mereka biasa membawa mobil-mobil curian ke garasi; di situ mobil  dibongkar, dan onderdilnya dijual. Mereka tidak pernah tertangkap. Sabtu sore itu, setelah mencuri mobil si pemuda, mereka memasukkan mobil tersebut ke dalam garasi kemudian garasi itu mereka kunci dari luar. Keesokan harinya mereka kembali ke situ dan garasi mereka buka. Astaga! Di dalam garasi itu mereka melihat orang berjubah oranye dan berambut kribo—yang fotonya tertempel di bagian belakang mobil si pemuda– berdiri diam di situ dan menatap mereka dengan pandangan yang tajam. Dengan rasa ngeri garasi itu mereka tutup lagi dan mereka kunci. Akan tetapi tatapan pria berjubah oranye itu tidak terlupakan, terbayang terus seakan-akan mengikuti mereka. Akhirnya mereka berdua kembali lagi ke garasi untuk membongkar mobil si pemuda. Ternyata mereka melihat pria berjubah oranye itu sudah berdiri di depan garasi sambil menatap mereka lagi dengan pandangan yang tajam seakan-akan menembusi hati mereka. Mereka berdua lari ketakutan. Pencuri mobil dan temannya berdiskusi dan mereka merencanakan akan mengeluarkan mobil itu dari garasi. Karena itu, mereka memberanikan diri kembali lagi ke garasi. Garasi mereka buka, lalu pintu mobil si pemuda mereka buka. Astaga!  Orang berjubah oranye itu ternyata duduk di dalamnya dan terus menatap mereka. Dengan ketakutan mereka berunding. Akhirnya kedua pencuri itu sepakat bahwa sebaiknya mobil itu mereka kembalikan kepada pemiliknya. Setelah mengambil keputusan itu, mereka merasa lega dan pandangan Swami tidak membayangi mereka lagi. Karena itulah, maka mobil tersebut mereka kembalikan.

        Pemuda pemilik mobil menceritakan bahwa itu adalah foto Bhagawan Sri Sathya Sai Baba, seorang guru agung yang sekarang masih hidup di India Selatan.

        Kedua pencuri mobil itu kemudian berusaha mencari keterangan tentang Bhagawan Baba. Mereka membaca buku-buku Beliau kemudian datang ke Prashanti Nilayam untuk mendapatkan darhan Beliau. Mereka menjadi bakta Bhagawan. Setiap tahun mereka datang ke Prashanti Nilayam untuk darshan. Tentu saja hidup mereka berubah total. Mereka tidak mencuri mobil lagi dan mencari nafkah secara halal. Demikianlah, dengan welas asih Beliau yang tidak terbatas, Bhagawan meluruskan hidup orang yang salah jalan. Seperti yang telah Beliau katakan, Avatar Sri Raama dan Sri Krishna datang ke dunia untuk menghukum orang-orang yang jahat, akan tetapi Avatar ini datang untuk memperbaiki. Senjata Beliau adalah kasih.

KEAMPUHAN FOTO BHAGAWAN


        Ketika Pak Bing Winara, pedagang barang elektronika dari kota gudek Yogyakarta berkunjung ke Prashanti Nilayam bersama rombongan, ia dan beberapa teman sempat menceritakan pengalaman luar biasa yang dialaminya berkenaan dengan foto Bhagawan Sri Sathya Sai Baba.

        Suatu kali kawan baiknya, Pak Djojo Prajitno dari Semarang, memberinya sehelai foto Bhagawan Baba yang sedang memegang Hiranyagarbha Linggam.  Sejak saat itu Pak Bing tidak pernah berpisah dari foto tersebut. Gambar itu selalu dibawanya ke mana-mana dalam saku kemejanya.

        Di belakang rumah Pak Bing tinggallah Bapak dan Ibu Jais yang berjualan nasi padang di Kampung Sosrokusuman Yogya. Mereka tidak hanya bertetangga, tetapi juga teman baik.

        Pada tahun 2001 Pak Jais membeli sebuah mobil bekas. Anehnya Ibu J selalu merasa ketakutan bila akan masuk ke mobil tersebut. Usut punya usut mereka mendengar bahwa dahulu mobil itu pernah menabrak orang sampai tewas. Karena merasa ngeri, kendaraan itu hanya mereka pakai sebentar lalu mereka jual murah-murah.

        Anehnya, sejak itu Ibu J seperti “ketempelan”. Ia sering merasa sangat ketakutan tanpa sebab sehingga di hadapan orang banyak ia memeluk suaminya sambil berkata, “Takut, Bang. Takut, Bang.” Pak J yang kebingungan berusaha mengobatkan istrinya pada orang “pintar” tetapi gagal. Keadaan Ibu J menjadi parah sehingga ia tidak dapat berjualan nasi padang lagi.

        Sekitar akhir 2001 Pak J menemui Pak Bing untuk meminjam mobil. Ia bermaksud membawa istrinya mencari “orang pintar”. Pada waktu itulah ia menceritakan kepada Pak Bing tentang keadaan aneh yang menimpa istrinya. Kebetulan Pak Bing sedang berada di toko. Bapak dan Ibu J berdiri di depan Pak Bing dengan meja toko terletak di antara mereka. Saat itu Bu J mulai kambuh. Ia mengatakan, “Takuut! Takuut!” lagi  dan seperti akan merangkul suaminya.

        Secara tidak sadar Pak Bing mengambil foto Baba dari saku kemejanya, kemudian ditempelkannya pada dahi Ibu J sambil berkata, “Setan mana saja jangan mengganggu! Pergilah ke tempat asalmu!” … Mendapat “terapi” ini mendadak Bu J menjadi lemas, tidak berdaya, seakan-akan tidak kuat berdiri lagi. Ia ditolong suaminya lalu mereka berdua pulang….

        Sungguh luar biasa! Sejak saat itu Bu J sembuh; tidak merasa ketakutan lagi. Ia menjadi normal dan dapat berjualan nasi padang seperti semula. Rupanya makhluk halus  yang “menempeli” Ibu J lari ketakutan oleh sentuhan suci ( gambar ) Bhagawan di kepalanya.

       Penulis pernah membaca penjelasan di buku Theosophy bahwa bila makhluk halus yang merasuki seseorang pergi meninggalkan badan orang yang dirasukinya, ia juga menyedot energi orang itu. Mungkin itulah sebabnya ketika gambar Bhagawan ditumpangkan di kepala Ibu J,  mendadak ia menjadi lemas karena roh yang merasukinya keluar meninggalkan badannya sambil menyedot energinya.

        Sebagaimana diceritakan oleh Pak Bing Winara kepada penulis pada bulan Juni 2002. Sun

DISEMBUHKAN DARI TUMOR TELINGA

DISEMBUHKAN DARI TUMOR TELINGA

        Pada tahun 1985 Ibu Waluyo yang tinggal di Surabaya menderita tumor di telinganya. Darah dan nanah keluar dari telinga itu dan bagian tepi telinga hancur. Suaminya sudah membawanya berobat ke dokter, tetapi tiap kali hanya sembuh sebentar, lalu dalam beberapa hari kambuh dan keluar lagi darah serta nanah.

        Kira-kira pada tahun 1989 – 1990 ketika berkunjung ke Prashanti Nilayam, Puttaparti, Bapak dan Ibu Waluyo mendapat interview. Di ruang interview Bhagawan menumpangkan tangan di kepala Ibu Waluyo. Beliau juga menciptakan vibhuuti dan memberikannya kepada Ibu Waluyo yang langsung dimakan di tempat itu juga. Sungguh menakjubkan! Setelah makan vibhuuti itu, rasa sakit di telinganya sembuh dan tumornya lenyap tidak pernah kambuh sampai pengalaman ini diceritakan kepada penulis pada bulan November 2002. L’�b

PELITA SAI DI AUSTRALIA

        Pada hari Kamis sore tanggal 9 Februari 1995, Teresa dan putrinya, Gavina, melakukan puja untuk Shiva Lingga di ruang doa di rumah mereka. Lingga itu diciptakan Baba dalam interview ketika mereka berkunjung ke Prashanti Nilayam dan diberikan kepadanya. Biasanya pada pagi hari linggam itu mereka letakkan dalam bejana berisi air, dan pada malam hari mereka masukkan ke dalam wadah vibhutti. Malam itu, ketika Teresa meletakkan linggam ke dalam wadah vibhutti, ia menemukan suatu benda kecil seperti serpihan kayu yang tiba-tiba ada di situ, sepertinya timbul dengan sendirinya di antara jarinya dan linggam. Serpihan kayu itu kecil sekali, kurang dari setengah centimeter. Teresa dan Gavina menganggap kejadian itu aneh. Pada mulanya Theresa bahkan mengira benda itu mungkin kotoran dan akan dibuang, tetapi karena sudah malam, serpih kayu itu diletakkannya dalam sebuah wadah kosong yang kebetulan ada di altar. Dalam hati ia berkata, “Maaf Swami, akan saya bersihkan besok pagi.” Pada waktu itu Umberto, suaminya, sedang berkunjung ke Prashanti Nilayam.

        Pada pukul 23.00 ia selesai berdoa kemudian tidur. Pukul 01.00 ia terjaga dengan hati yang cerah dan bahagia. Tanpa bangkit dari pembaringannya ia melakukan japa mantra Gaayatrii kemudian disambung dengan japa Sai Yesus hingga pukul 02.00. Pada waktu itu, dari pintu kamarnya yang terbuka, tiba-tiba Teresa melihat cahaya yang terang di koridor. Cahaya itu menggugahnya dari konsentrasi doa. Ia bangkit untuk melihat apa gerangan yang menyebabkan terang itu. Dijenguknya kamar putrinya dan dilihatnya gadis itu tidur lelap. Ia pergi ke ruang doa dan sangat terkejut ketika mendapati benda yang tampak seperti serpihan kayu tadi menyala. Benda itu menyala terus tanpa bahan bakar apa pun selama 14 jam sejak diketemukan pada pukul 2 pagi hingga sekitar pukul 16.00.

        Pada waktu itu terjadi mukjizat kedua. Ny.Teresa “melihat” Baba mengisi wadah tempat serpihan kayu yang menyala tadi dengan lilin. Dengan demikian Teresa mengerti bahwa ia harus memelihara nyala tersebut dengan bahan bakar lilin.

        Pada bulan Juli 1995 Gavina menghadiri konperensi musik di Prashanti Nilayam. Dalam interview Swami memberitahu agar ia kembali lagi ke Prashanti Nilayam sebelum bulan November. Mengikuti instruksi itu, Teresa dan Gavina kembali ke Prashanti Nilayam pada tanggal 25 Oktober 1995, sedangkan suaminya tinggal untuk mengurus Sai Centre dan menjaga pelita Sai.

        Sebelumnya, pada tanggal 5 Oktober Baba memberitahu Teresa dalam meditasi bahwa api itu adalah pelita Sai.

        Pada tanggal 31 Oktober 1955 rombongan mereka mendapat interview. Ketika masuk ke ruang wawancara, Teresa menunjukkan foto pelita tersebut sambil berkata, “Terimakasih Swami, untuk nyala apinya.” Waktu itu ia lupa bahwa nyala itu adalah pelita Sai. Swami berkata, “Ini nyala apimu dan nyala ini tidak di dalam foto, melainkan di dalam hatimu.” Kemudian Beliau bertanya, “Bahan bakar apa yang kaugunakan untuk pelita Sai?” Teresa menjawab, “Swami memberitahu saya lilin, mengapa Swami?” Swami berkata, “Ya, berilah lilin. Gunakan pelita itu bila engkau memerlukannya.”

        Kemudian sambil menunjuk Teresa, Swami berkata kepada rombongan bakta yang duduk di ruang interview, “Ia kuat, ia kuat. Ia memimpin.” Teresa menjawab, “Saya kuat karena Swami berada di dalam hati saya. Swamilah sumber kekuatannya.”

        Setelah itu, Teresa mohon agar Swami memberkati foto pelita Sai tersebut untuk dibagi-bagikan kepada umat. “Swami, jika Swami berkenan, hanya jika Swami berkenan, saya akan membagi-bagikan 700 foto kepada umat di ashram.” Swami melihat album berisi foto-foto pelita Sai. Tiba-tiba Teresa mengambil sebuah foto, menunjukkannya kepada Baba sambil berkata, “Swami, ( foto ) ini bagus.” Baba menerima foto tersebut kemudian mengusapnya dan dengan demikian memberkatinya serta memberi izin kepada Teresa untuk membagi-bagikannya kepada para bakta.

        Ceritanya tidak habis di sini. Pelita Sai itu tumbuh menjadi nyala api yang lebih besar. Benda yang mirip serpihan kayu itu bertambah panjang hingga kira-kira 10 cm. Benda itu sudah diperiksakan di laboratorium Melbourn dan Sydney, tetapi tidak seorang pun tahu terbuat dari bahan apa.

        Ny.Teresa berharap agar dengan doa dan bakti kepada Tuhan, setiap orang dapat melihat nyala Sai ini di dalam hatinya masing-masing.

Sebagaimana diceritakan oleh Ny.Teresa Cossa kepada penulis di Prashanti Nilayam.

NY.TERESA MENDAPAT UKURAN JUBAH BABA

NY.TERESA MENDAPAT UKURAN JUBAH BABA

        Pada tanggap 1 Desember 1996 setelah menerima vibhuti dari teman, Ny.Teresa dan keluarganya pergi menonton video Baba berjudul Aura of Divinity. Pada waktu itu ia mengira bahwa Baba adalah nabi palsu dan aneka mukjizat yang Beliau lakukan hanyalah tipu muslihat. Meskipun demikian, ketika melihat video tersebut untuk pertama kalinya, ia merasa sangat terkesan melihat jubah Baba.

        Ny.Teresa senang menjahit dan sejak lama ia sering membayangkan seandainya ia hidup sezaman dengan Yesus, tentu ia akan menjahitkan jubah untuk Beliau.

        Setelah mukjizat peneymbuhan yang terjadi pada hari Natal 1981, Ny.Teresa ingin melihat lagi video tersebut. Pada bulan Januari 1982 ia pergi bersama keluarganya menonton lagi video yang sama, tetapi kini perasaannya sudah berubah, dari takut dan curiga, menjadi kasih dan syukur kepada Beliau.

        Ketika Ny.Teresa menonton video yang kedua kalinya ini, sungguh aneh, ia melihat ukuran pakaian Bhagawan Sri Sathya Sai Baba tertulis pada jubah Beliau. Ny.Theresa mengamati dan berkomentar, “Oh, lingkar dada Beliau sekian, panjang lengan sekian,” dan seterusnya. Putrinya, Gavina, heran karena ia tidak melihat angka-angka tersebut. Di kemudian hari barulah Ny.Teresa tahu bahwa tidak ada seorang pun yang melihat angka-angka tersebut selain ia sendiri.

        Belakangan ketika Ny.Teresa menonton lagi video tersebut untuk ketiga kalinya, angka ukuran jubah yang dahulu dilihatnya itu tidak tampak lagi.

        Ketika mengetahui kejadian ini, Umberto, suami Ny.Teresa berkomentar, “Oh, karena engkau ingin menjahit jubah untuk Yesus, Baba memperlihatkan ukuran jubah Beliau kepadamu. Buatlah jubah untuk Baba.” Meskipun dianjurkan oleh suaminya, Ny.Teresa bimbang dan enggan melakukannya. Ia merasa dirinya terlalu kecil, tidak layak  membuatkan jubah bagi Sang Avatar. Suaminya mendesak dan membesarkan hatinya, tetapi ia tetap ragu. Ia berkata kepada Umberto, “Jika Baba memang Avatar, Beliau akan memberikan jubah Beliau di tangan saya sehingga saya dapat memeriksa apakah ukuran yang saya lihat di video itu benar atau tidak.” Umberto menjawab, “Engkau minta supaya surga turun ke tanganmu ( peribahasa yang menyatakan sesuatu yang mustahil ). Siapa yang akan memberikan jubah Baba ke tanganmu?” Hal ini terjadi pada tahun 1982 dan waktu itu bakta Baba di Australia sangat sedikit. Sama sekali tidak terbayang oleh mereka bahwa ada orang yang memiliki jubah Baba.

        Tidak lama kemudian ada sepasang suami istri yang mengajak Ny.Teresa dan Umberto melihat Pura Sai Baba di Sydney. Ny.Teresa membayangkan bahwa tempatnya besar, dilengkapi dengan bangku untuk berlutut dan kursi-kursi seperti di gereja Katolik. Alangkah herannya ia ketika mendapati bahwa yang disebut Pura Sai Baba itu ternyata bekas garasi di rumah Jack, suatu keluarga Yahudi Australia.

        Rupanya keluarga itu pernah mengalami mukjizat. Cucu perempuan Jack, seorang gadis berusia 12 tahun yang menderita kanker darah telah disembuhkan oleh Baba. Mereka datang ke Prashanti Nilayam untuk mengucapkan terimakasih kepada Baba dan dalam kesempatan itu, Baba mengenugerahkan sehelai jubah Beliau kepada mereka. Ketika kembali ke Sydney, keluarga itu mengubah garasinya menjadi semacam tempat ibadah dengan altar dan karpet untuk duduk berdoa serta menyanyikan kidung suci seperti di Prashanti Nilayam.

        Ketika duduk di dalam pura itu, Ny.Teresa berpikir bahwa mungkin pada zaman Yesus orang-orang juga berdoa dengan duduk di lantai seperti ini. Ia sangat terkesan dan asyik mengamati foto-foto Baba yang dipasang di situ.

        Tiba-tiba Jack manjawil lengannya. Ia menoleh. Jack menyuruh Ny.Teresa menadahkan kedua telapak tangannya. “Untuk apa?” tanyanya dengan heran. Jack meletakkan jubah Baba di tangan Ny.Teresa. Wanita itu begitu terkejut dan sangat terharu sehingga ia menangis sambil menekankan jubah itu di dadanya. Orang-orang heran mengapa ia menangis, tetapi suami dan putrinya mengerti, mereka langsung teringat pada percakapan keluarga ketika Ny.Teresa berkata, “Jika Baba memang Avatar, Beliau akan memberikan jubah Beliau di tangan saya ….” Umberto berkata, “Itu berarti Swami menghendaki engkau menjahitkan jubah Beliau,” tetapi lagi-lagi Ny.Teresa bimbang. Mereka kembali ke rumah dan membicarakan peristiwa itu.

        Kamis berikutnya mereka pergi lagi ke Pura Sai Baba. Ny.Teresa menceritakan pengalamannya kepada Jack, tetapi ia merasa bahwa Jack dan istrinya tidak merasa senang dengan gagasan tersebut. Jack memperlihatkan foto-foto Swami kepada Ny.Teresa dan suaminya. Ny.Teresa melihat foto-foto tersebut dengna diam, tetapi di dalam hati berdoa kepada Bhagawan, “Baba, jika Paduka berkenan saya menjahit jubah Paduka, mohon berilah saya tanda.” Tiba-tiba dari salah satu foto yang sedang diamatinya timbullah vibhuti. Ny.Teresa tidak mengerti bahwa itu abu suci, maka dengan heran ia bertanya, “Apa ini?” Melihat vibhuti tersebut, Jack dan istrinya terkejut bercampur senang; mereka berteriak, “Oh, ini mukjizat besar!” Setelah menyaksikan timbulnya vibhuti tersebut, mereka berkata, “Pergilah ke pura dan lakukan apa yang Anda suka.”

        Ny.Teresa membuka lipatan jubah Baba dan memeriksa ukurannya. Ternyata tepat sama dengan ukuran yang dilihatnya di video. Hari berikutnya ia dan suaminya pergi membeli bahan. Mereka menemukan bahan dan warna yang sesuai. Kamis berikutnya lagi Ny.Teresa dan suaminya kembali ke Pura Sai Baba membawa jubah tersebut. Di situ Ny.Teresa minta pada Jack agar diperbolehkan melihat lagi foto-foto Baba yang tempo hari dilihatnya. Ia memandangi foto tersebut sambil berdoa dalam hati, “Baba, jika Paduka senang dengan apa yang saya lakukan, mohon berilah saya tanda lagi.” Ternyata vibhuti timbul lagi dari foto yang sama.

        Waktu itu mereka tidak mengetahui alamat Baba. Seorang teman memberi mereka alamat ashram Prashanti Nilayam. Ny.Teresa menulis surat ke kantor ashram mohon agar jubah tersebut diserahkan kepada Baba. Ditambahkannya, seandainya Baba tidak berkenan menerimanya, mohon dikembalikan ke alamat si pengirim, ia akan membayar biaya pengirimannya kembali. Jubah itu tidak pernah dikirim kembali, tetapi ada surat dari kantor ashram yang menyatakan bahwa Baba menerima jubah tersebut.

        Pada tahun 1982 Gavina berkunjung ke Prashanti Nilayam bersama teman orang tuanya dari Sydney. Dalam interview Gavina mengucapkan terimakasih kepada Swami karena telah memulihkan kesehatan ibunya, Ny.Teresa. Pada kesempatan itu Gavina juga bertanya kepada Baba apakah Beliau telah menerima parsel yang dikirim ibunya. Baba berkata, “Ya, ya, katakan terimakasih kepada ibumu.”

        Bhagawan Baba yang pengasih dan penyayang mengetahui keinginan Ny.Teresa untuk menjahitkan jubah buat Guru Agung Yesus. Beliau memenuhi keinginan tersebut dan membuat wanita yang saleh itu bahagia. Beliau datang menemui Ny.Teresa dalam mimpi pada tanggal 15 Agustus 1983 dan berkata bahwa Beliau menyukai jubah itu, warnanya bagus sekali, dan Ny.Teresa harus menjahit untuk Beliau.  Ny.Teresa sangat bahagia dan menyimpan peristiwa ini di dalam hatinya sebagai kenangan yang tidak terlupakan.

Sebagaimana diceritakan oleh Ny.Teresa Cossa kepada penulis.

VIBHUTI YANG MEMBAWA BAHAGIA DI HARI NATAL

VIBHUTI YANG MEMBAWA BAHAGIA DI HARI NATAL

        Penulis berjumpa dengan Ny.Theresa Cossa di Prashanti Nilayam menjelang perayaan ulang tahun Bhagawan Sri Sathya Sai Baba yang ke-71 pada bulan November 1996. Pada waktu itu, wanita yang saleh dan ramah ini beserta keluarganya sudah 15 tahun lamanya menjadi bakta Bhagawan. Mereka adalah keluarga Italia yang tinggal di Australia, di Selatan Sydney. Suaminya, Umberto, adalah ketua Sai Centre di South Hurstville, Sydney. Berikut ini Ny.Theresa menceritakan mukjizat Bhagawan yang pertama kali dialaminya pada tahun 1981.

        Pada tahun 1979, Ny.Theresa Cossa, menjalani operasi, tetapi setelah operasi keadaannya bahkan lebih parah daripada sebelumnya.

        Pada tahun 1981 keluarganya mengetahui tentang Bhagawan Sri Sathya Sai Baba dari koran-koran Italia. Di situ diceritakan tentang berbagai mukjizat Beliau. Pada hari Sabtu pertama bulan Desember 1981 ada teman yang memberinya beberapa paket vibhuti. Umberto, membujuk istrinya agar makan vibhuti tersebut, tetapi ia tidak mau karena pada waktu itu ia mengira Sai Baba adalah tokoh anti-Kristus.

        Pada tanggal 24 Desember 1981 Ny.Theresa menderita kolik yang hebat. Dokter memberitahu Umberto, jika sakitnya tidak mereda hingga malam, ia harus menelepon ambulans dan membawa istrinya ke rumah sakit.

        Malam itu Ny.Theresa berbaring di ruang keluarga dan di dekatnya terletak sebuah pot berisi tanaman hias. Aneh sekali, lewat pukul 24 malam, tiba-tiba dalam sedetik sehelai daun tanaman itu tumbuh hingga berukuran dua kali lebih tinggi daripada daun-daun lainnya. Sementara tumbuh, daun itu mulai bergoyang-goyang cepat sekali, pada hal tidak ada angin karena begitu malam tiba, pintu dan jendela sudah ditutup. Melihat itu, Ny.Theresa sangat ketakutan. Ia berkata, “Orang ini ( Sai Baba ) mengirim setan kepada kita.” Akan tetapi, Umberto berkata bahwa daun yang bergoyang-goyang itu merupakan tanda yang mengatakan, “Jangan khawatir, jangan khawatir,” dan ia mendesak istrinya agar mencampur vibhuti itu dengan air, lalu meminumnya. Umberto berkata, “Vibhutti ini baik buatmu; lihatlah, ada demikian banyak mukjizat yang diceritakan di koran.” Ny.Teresa tetap merasa khawatir dan takut.

        Waktu itu malam Natal tanggal 24 Desember 1981 dan Theresa berdoa kepada Yesus. Tiba-tiba ia berpikir, aku berdoa kepada Yesus, maka Tuhanlah yang akan memberiku jawaban, bukan setan. Dengan gagasan itu ia menjadi tenang dan tidak takut lagi.

        Pada pukul 00.45 tengah malam ia memutuskan akan mengenakan vibhutti itu di kepalanya. Dari lubuk hatinya ia berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Yesus agar diberi penjelasan yang benar mengenai orang ini ( Sai Baba ). “Jika Sai Baba memang datang dari Tuhan, mohon tolonglah dia. Jika orang ini tidak datang dari Tuhan, mohon ampunilah dia,” demikian doanya. Ny.Teresa menyentuh vibhutti sambil mengucapkan nama Yesus. Saat itu ia merasa ada sesuatu yang bergerak di tubuhnya, suatu perasaan yang luar biasa. Hal itu diceritakannya kepada suaminya.

        Umberto menganjurkan agar Teresa mencampur vibhutti dengan air lalu meminumnya. Ia setuju. Ia berdoa lagi lalu minum air vibhutti tersebut. Begitu air vibhutti itu melewati kerongkongannya, ia merasa ada gas atau angin yang keluar dari bagian perutnya, melewati tubuh, menuju bagian puncak kepala, kemudian keluar dari situ. Sejak saat itu tiada lagi derita dan air mata. Sakitnya lenyap. Malam itu keluarga mereka merayakan Natal dengan gembira.

Sebagaimana diceritakan oleh Ny.Teresa Cossa kepada penulis di Prashanti Nilayam.